Refleksi Satu Abad NU (2-Habis): Harus Lebih Konkret dan Kurangi Proposal Kegiatan

Tantangan di Abad Kedua

Ada beberapa tantangan yang bakalan dihadapi NU dalam abad keduanya ini. Pertama, manajemen organisasi dan penguatan sumber daya manusia (SDM). Sebagai organisasi massa Islam yang sangat besar, NU membutuhkan organisasi yang efektif, yang bisa mengorkestrasi dan menggerakkan anggota-anggotanya.

Relasi jam’iyyah dan jamaah yang kadang mengalami kebuntuan dan tidak sejalan harus ditemukan jalan keluarnya. Gus Yahya mengisyaratkan akan mengelola PBNU layaknya tata laksana pemerintahan. Sebagaimana pemerintahan, PBNU akan memberi benefit-benefit kepada para anggota. Untuk itu, tentu saja diperlukan pengelolaan administrasi yang kuat.

Bacaan Lainnya

Dalam proses memperjuangkan cita-citanya, NU mesti menetapkan agenda-agenda strategis dan prinsip-prinsip pengelolaan eksekusinya, yang berorientasi bentuk-bentuk kegiatan (output) dan proyeksi dampak (outcame) yang konkret dan terukur. PBNU mesti difungsikan sebagai pemimpin mobilisasi sumber daya dan mendistribusikan sumber daya itu kepada lembaga, badan otonom (banom), PWNU dan PCNU, di mana pengurus cabang-cabang menjadi ujung tombak eksekusi program, sedangkan pengurus wilayah bertugas mengonsolidasikan cabang-cabang dan menjadi simpul koordinasi pelaksanaannya. Dengan banyaknya rencana strategis ini, hampir bisa dipastikan para pengurus PBNU akan sibuk luar biasa dalam lima tahun ke depan.

Soal penguatan SDM, PBNU di era Gus Yahya memandang perlunya cara fundamental dalam membenahi sistem kaderisasi. Jika pada kepengurusan sebelumnya terdapat dua sistem kaderisasi di NU, yakni Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) dan Pelatihan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU), dualisme sistem kaderisasi ini dimoratorium oleh pengurus baru NU. Sistem kaderisasi diperbaiki agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Muncullah tiga jenjang kaderisasi, yakni, Pendidikan Dasar Pendidikan Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU); Pendidikan Kader Menengah Nahdlatul Ulama atau PKMNU; dan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU).

Setiap tahun setidaknya ada sekitar 2.300 pelatihan kader yang akan digelar NU di seluruh tingkatan. Selain kader yang militan, berkarakter, dan keren, PBNU perlu melakukan transformasi pengelolaan organisasi dengan teknologi. Selama ini sudah ada Kartu Anggota NU (Kartanu) dan NU Cash. Ke depan  harus lebih sophisticated, sehingga penguatan organisasi dan kelembagaan benar-benar terwujud.

Yang tak kalah penting, kompetensi SDM nahdliyin harus makin beragam, tidak hanya soal agama. Mereka harus lebih banyak diberi ruang untuk beraktualisasi menyumbangkan ide dan gagasannya. Darma bakti dan peran diaspora nahdliyin dari berbagai disiplin ilmu di berbagai belahan dunia tentu sangat dinantikan. Nahdliyin yang tidak hanya menguasai ilmu agama, mahir ayat-ayat kauliyah, namun juga kapabel dalam penguasaan ayat-ayat kauniyah, seperti penguasaan ilmu sains matematika, IT, statistik komputasi, ilmu kemaritiman, geologi, astronomi, ilmu kedokteran, manajemen bisnis, sinematografi, start up, block chain, NFT, coding, dan nahdliyin yang ki-AI atau jago dalam bidang artificial intelligent. Di sisi lain, NU juga harus mengintegrasikan perkembangan teknologi dan kemanusiaan. Sebab, perkembangan teknologi informasi telah menghasilkan dehumanisasi, manusia terasing, pribadi-pribadi ‘eco chamber’ yang cupet nalar dan tak tahu arah.

Pos terkait