Ketiga, menguasai dan digdaya di ruang urban. Tantangan NU soal ini ke depan tidaklah ringan. Masyarakat urban adalah masyarakat yang independen, heterogen, dan berpikiran terbuka. Dalam bidang agama, mereka cenderung lebih menyukai praktik keagamaan yang simpel, praktis, dan efisien. Mereka lebih suka belajar agama secara instan, tidak perlu sanad, tidak perlu sima’ dan qiraah ‘ala syaikh, tak harus talaqqi dengan kiai, cukup berguru kepada Syekh Google, Ustad Tik Tok, Kiai Instagram, Ajengan Youtobe, dan Tuan Guru Reels IG atau FB.
Karena faktor urbanisasi, saat ini banyak nahdliyin yang berpindah dari wilayah perdesaan ke perkotaan. Langkah pertama yang perlu dilakukan NU terhadap kaum urban adalah menyapa dan menjadikan mereka sebagai salah satu lokomotif untuk memperkuat NU di wilayah urban, baik di ranah maya maupun nyata. Langkah lainnya adalah mengubah basis aktivitas yang selama ini berbasis administrasi kewilayahan menjadi berbasis komunitas dan profesi. Penguatan ajaran Aswaja An-Nahdliyah harus dijalankan secara adaptif, kreatif, dan inovatif, melalui penyebarluasan konten-konten digital, kaderisasi, pengajian-pengajian, dan berbagai jalur interaksi sosial ala masyarakat kota.
Keempat, konsentrasi pada ikhtiar-ikhtiar pelestarian dan penyelamatan lingkungan. Sebagai ormas Islam beranggotakan mayoritas penduduk Islam Indonesia, NU memiliki tanggung jawab besar dalam pengarusutamaan fikih lingkungan (fiqih biah), hubbul ‘alam minal iman, dan ekoteologi. NU perlu terus menekankan secara konkret bagaimana manusia memikul tanggung jawab keseimbangan dengan alam semesta.
Kelima, menjadikan ajaran Islam sebagai proyek percontohan dunia. KH. Miftahul Akhyar selaku Rais ‘Aam PBNU mengatakan bahwa NU saat ini harus dibawa ke kancah internasional, selaras dengan lafad “dhat” yang melintasi dunia dalam logonya. Pada momentum 1 abad inilah dunia harus lebih melek terhadap NU.
Untuk itu, NU perlu memaksimalkan momentum organisasi, momentum spiritual, dan momentum kultural. Sebab, salah satu agenda strategis yang dicanangkan adalah rekontekstualisasi global leadership yang mengakar pada tradisi, selain rekontekstualisasi nahdlatut tujjar (kebangkitan ekonomi), dan rekontekstualisasi tashwirul afkar (pemikiran).
Mandat itu sebenarnya sudah dimiliki oleh NU sejak awal didirikan, yang diterjemahkan dalam lambang organisasi berupa gambar bola dunia. Mandat global di era saat ini adalah mandat perdamaian dunia. Gus Yahya, dalam pidatonya di Forum on Common Values Among Religious Followers atau Forum tentang Nilai-Nilai Bersama di Antara Para Pengikut Agama yang diselenggarakan Kerajaan Arab Saudi dan diikuti anggota Liga Dunia Islam, berharap agama tidak menjadi alat untuk sebuah kepentingan politik. Sebab, jika itu sampai terjadi, maka agama bisa menjadi alat untuk sebuah kehidupan bersama yang berdampingan.





