Plt. Kepala Dinas Kesehatan KBB, Lia N. Sukandar, menegaskan semua sampel tengah diteliti. “Kalau menunya ada tahu, ayam kecap, sayur. Semua sudah dibawa ke Labkesda untuk diperiksa,” ujarnya, sebagamana dikutip Detik.
Penutupan Dapur & Respons Bupati
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail alias Jeje Govinda, menegaskan tidak semua dapur MBG ditutup.
“Saya tidak menutup 85 dapur. Jadi, yang ditutup hanya tiga dapur saja, yang terindikasi masalah. Jangan sampai satu atau dua kasus berpengaruh terhadap dapur-dapur yang sudah bekerja dengan baik,” kata Jeje, dikutip dari Antara.
Menurutnya, puluhan dapur lain tetap berjalan dengan pengawasan ketat. “Kalau di KBB ada 80 sekian dapur. Itu tetap beroperasi sambil evaluasi berjalan. Jadi hanya tiga dapur yang ditutup,” tambahnya.
Evaluasi Nasional dari BGN
Kasus ini langsung jadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN). Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menyatakan pihaknya segera melakukan evaluasi menyeluruh.
“Langsung dilakukan evaluasi adanya keracunan massal tersebut. (Dapur) ditutup sementara sebagai langkah antisipasi,” kata Nanik, dikutip dari Inilah.com.
Sejumlah media juga melaporkan, BGN kini tengah mengkaji kebijakan tambahan, termasuk kemungkinan mewajibkan sertifikasi bagi seluruh koki MBG di Indonesia.
Agenda Ke Depan
Hingga kini, investigasi masih berjalan. Semua pihak menunggu hasil uji laboratorium yang menjadi kunci untuk memastikan penyebab keracunan.
Pemerintah daerah dan pusat sepakat, program MBG tidak akan dihentikan. Fokus mereka adalah memperbaiki rantai distribusi makanan dan memperketat pengawasan agar insiden serupa tidak lagi terjadi.
Di tengah proses itu, ratusan siswa dan keluarganya masih menanggung dampak langsung. Bagi Paisal dan korban lainnya, peristiwa ini jadi pengingat betapa pentingnya standar keamanan pangan dalam program sebesar MBG.***





