Sejak 22 September, Bandung Barat diguncang kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Lebih dari 800 siswa terdampak, tiga dapur ditutup, dan status Kejadian Luar Biasa (KLB) resmi ditetapkan. Apa yang sebenarnya terjadi?
__________
Senin pagi, 22 September 2025, seharusnya jadi hari biasa bagi siswa-siswa di Cipongkor dan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Setelah bel masuk berbunyi, para murid mengikuti pelajaran sambil menunggu jatah makan siang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG)—kebijakan andalan pemerintah pusat.
Namun, suasana mendadak berubah. Sejumlah siswa mengeluh pusing, mual, hingga muntah setelah menyantap menu ayam kecap, tahu, dan sayur. Kepanikan pun merebak. Sebagian harus dilarikan ke puskesmas terdekat, bahkan dirujuk ke rumah sakit.
“Untuk ayam itu bau busuk, terus memar-memar. Rasanya juga aneh, enggak seperti ayam biasanya. Beberapa menit setelah makan, saya merasa pusing. Pas pulang ke rumah, makin parah, mual, sesak. Sekarang juga masih diinfus,” tutur Paisal (17), salah seorang siswa yang masih terbaring lemah, sebagaimana dikutip Kumparan.

Gelombang Korban Terus Bertambah
Laporan Dinas Kesehatan Jawa Barat mencatat, per 24 September, sedikitnya 842 siswa di Cipongkor dan Cihampelas mengalami gejala keracunan. Jumlah ini belum final karena proses pendataan masih berjalan di posko-posko kesehatan.
Status Kejadian Luar Biasa (KLB) akhirnya ditetapkan. Penetapan ini membuat koordinasi lintas-instansi bisa lebih cepat, mulai dari Dinkes, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum.
Dugaan Awal: Masak Terlalu Dini
Penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil laboratorium. Petugas sudah membawa sampel muntahan siswa dan sisa makanan ke Labkesda Jabar. Namun, dugaan awal mengarah pada proses masak dan distribusi yang tidak aman.
“Menurut info terakhir, karena menunya dimasak terlalu dini, jadi ketika didistribusikan ke siswa kondisinya sudah tidak bagus,” kata Koordinator SPPG Bandung Barat, Gani Djundjunan, kepada wartawan.





