Kontrak Batin di Depan Polda Jatim
Pintu berubah ketika sang tante membawa kabar: ada pendaftaran polisi. Tanpa persiapan materi, hanya berbekal doa, Purnomo melangkah ke Polda Jatim.
Sepanjang perjalanan dan proses seleksi, lisannya tak berhenti berselawat dan merapal Al-Fatihah—dan di situ pula ia membuat kontrak batin yang tak tertulis.
Jika diterima, ia akan menyedekahkan 10 hingga 20 persen penghasilannya untuk anak yatim dan kegiatan sosial. Janji itu tak pernah ia ingkari.
Kontrak itu ia tepati. Bukan dengan pernyataan, melainkan dengan kerja yang bisa dilihat di lapangan—ratusan ODGJ yang terawat, anak jalanan yang punya atap, dan warga telantar yang tidak lagi tidur di trotoar.
Masa Purna yang Sudah Disiapkan
Kini, saat banyak orang di usia yang sama menghitung hari menuju pensiun dengan kegelisahan, Purnomo justru sedang membangun.
Sebuah masjid dan tempat penampungan yang lebih layak tengah dalam persiapan—warisan nyata yang ingin ia tinggalkan sebelum masa dinas berakhir.
“Di usia ini, kita harus tahu arah mana yang akan kita tuju. Allah sudah beri kecukupan, sekarang saatnya saya lebih fokus beribadah dan menjadi manfaat bagi lingkungan,” katanya.
Toga yang ia kenakan hari itu bukan sekadar penanda akademis. Ia adalah titik di mana dua dunia bertemu—anak warung kopi yang pernah diolok teman-temannya, dan polisi yang kini merawat mereka yang tak punya siapa-siapa.
Janji lama itu rupanya tidak pernah selesai; ia hanya terus berganti bentuk.***





