Proyek Ketahanan Pangan Indonesia yang Melibatkan Militer Dikhawatirkan Mengancam Konservasi Alam

Proyek ketahanan pangan Indonesia, terutama di wilayah Papua, bak buah simalakama. Produksi pangan perlu ditingkatkan, sementara di sisi lain, proyek tersebut dinilai bakal merusak konservasi alam. (Ilustrasi)
Pemerintah Indonesia membuka jutaan hektere sawah dan perkebunan tebu sebagai upaya untuk mencapai swasembada pangan dan energi. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dilibatkan dalam proyek ambisius ini. Beberapa pihak khawatir proyek ini justru akan merusak konservasi alam.

Militer Indonesia disebut-sebut memegang peran kunci dalam rencana ambisius untuk mengubah lebih dari 2 juta hektare lahan basah dan sabana di Papua menjadi sawah dan perkebunan tebu. Merauke ditargetkan menjadi pusat ketahanan pangan. Kawasan tersebut, oleh para konservasionis, dianggap sebagai “harta karun” lingkungan.

Sebagai informasi, Pemerintah Indonesia telah menetapkan proyek tebu dan padi di Merauke, yang meliputi sekitar seperlima dari dataran rendah seluas 10.000 kilometer persegi di wilayah tersebut. Proyek ini dikenal sebagai TransFly, yang membentang dari Indonesia hingga Papua Nugini.

Nama TransFly diambil dari Sungai Fly yang berliku—namun dalam peta digital tampak sebagai garis di perbatasan kedua negara.

Bacaan Lainnya

Merauke dipilih sebagai lokasi proyek karena merupakan wilayah yang terhindar dari konflik puluhan tahun antara pemerintah Indonesia dan penduduk asli Papua yang ingin merdeka.

Wilayah TransFly di Merauke. (Dok. BenarNews)

Beberapa analis menilai bahwa keterlibatan TNI dalam proyek ini memicu kekhawatiran makin besarnya campur tangan militer dalam wilayah sipil di Indonesia. Proyek pangan tersebut dinilai dapat memicu ketegangan dan bahkan kekerasan di Merauke.

Menurut Eric Wikramanayake, ahli biologi konservasi yang menulis buku mengenai kawasan konservasi di Asia, hamparan luas lahan basah, padang rumput, dan kantong hutan hujan tropis di bagian selatan Pulau Papua itu “secara global luar biasa.”

Menurut para peneliti, sebagaimana disinggung Eric, TransFly merupakan rumah bagi setengah dari spesies burung yang ditemukan di Nugini, termasuk sekitar 80 spesies yang tidak ada di tempat lain. Ada juga satwa endemik lainnya, seperti kura-kura hidung babi dan marsupial karnivora yang mirip kucing.

Pos terkait