Tiga Kali ke Paris, Prabowo Jelaskan Strategi Beli Alutsista Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambur Presiden Prabowo di Paris, Selasa (14/4/2026). INSTARGAM @presidenrepublikindonesia
Prabowo sudah tiga kali ke Paris dalam lima bulan di 2026. Di balik frekuensi lawatan itu ada agenda besar: alih teknologi militer dan kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Tidak banyak presiden yang mengunjungi satu negara tiga kali dalam setengah tahun. Tapi itulah yang dilakukan Prabowo Subianto terhadap Prancis — Januari, April, dan Mei 2026.

Kunjungan kenegaraan terakhir berlangsung 26–29 Mei 2026 di Paris, kali ini sebagai kunjungan balasan atas kedatangan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia pada 2025.

Bacaan Lainnya

Di hadapan Macron, Prabowo sendiri mengakui intensitas lawatannya. “Tahun ini saja saya sudah tiga kali ke Prancis,” ujarnya di Istana Élysée, Paris, Kamis (28/5/2026).

Bukan Sekadar Beli, Tapi Bangun Ekosistem

Alasan di balik kedekatan itu bukan cuma soal belanja persenjataan. Prabowo menegaskan setiap akuisisi alutsista dari Prancis harus membawa alih teknologi bagi industri pertahanan dalam negeri.

“Prancis adalah salah satu mitra utama Indonesia dalam modernisasi alutsista pertahanan, termasuk dalam pengembangan industri pertahanan melalui produksi bersama dan alih teknologi,” kata Prabowo.

Dalam pertemuan di Istana Élysée, kedua negara sepakat mendorong ko-produksi hingga kolaborasi teknologi persenjataan — langkah yang memungkinkan Indonesia membangun ekosistem industri pertahanan yang lebih mandiri.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menyebut ada empat bidang utama yang disasar: pertahanan, pendidikan, energi, dan pengelolaan mineral kritis.

“Karena kita telah memperoleh sejumlah alutsista dari Prancis, diperlukan transfer teknologi untuk penguasaan alutsista tersebut,” ujar Qodari, Minggu (31/5/2026).

Rafale hingga Kapal Selam Mulai Digarap di Dalam Negeri

Indonesia telah mengontrak 42 unit jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation, dengan nilai kontrak yang disebut-sebut mencapai USD8,1 miliar. Batch pertama tiga pesawat dijadwalkan mendarat pada awal 2026.

Selain itu, kontrak efektif pembangunan dua kapal selam Scorpene Evolved sudah berjalan sejak Juli 2025. Kapal selam itu akan dibangun di galangan PT PAL Indonesia melalui skema alih teknologi — sebuah preseden baru bagi industri galangan kapal nasional.

Pembangunan perdana ditargetkan dimulai Juni 2026.

Diplomasi Personal Jadi Modal

Qodari juga menyoroti faktor yang kerap luput dari perhatian: kedekatan personal antara Prabowo dan Macron.

“Ada hubungan personal yang sangat kuat antara kedua kepala negara. Modal sosial tidak kalah pentingnya dengan modal ekonomi maupun politik,” tuturnya.

Selama hampir dua tahun terakhir, Prabowo dan Macron telah bertemu setidaknya lima kali secara langsung.

Pada kunjungan Macron ke Indonesia Mei 2025, tercatat 27 nota kesepahaman ditandatangani dengan total nilai lebih dari USD11 miliar.

Kali ini, Prabowo dan Macron juga meluncurkan Dewan Bisnis Indonesia–Prancis — forum yang menargetkan peningkatan total perdagangan kedua negara hingga tiga kali lipat pada 2035.***

Pos terkait