Prabowo sudah tiga kali ke Paris dalam lima bulan di 2026. Di balik frekuensi lawatan itu ada agenda besar: alih teknologi militer dan kemandirian industri pertahanan Indonesia.
Tidak banyak presiden yang mengunjungi satu negara tiga kali dalam setengah tahun. Tapi itulah yang dilakukan Prabowo Subianto terhadap Prancis — Januari, April, dan Mei 2026.
Kunjungan kenegaraan terakhir berlangsung 26–29 Mei 2026 di Paris, kali ini sebagai kunjungan balasan atas kedatangan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia pada 2025.
Di hadapan Macron, Prabowo sendiri mengakui intensitas lawatannya. “Tahun ini saja saya sudah tiga kali ke Prancis,” ujarnya di Istana Élysée, Paris, Kamis (28/5/2026).
Bukan Sekadar Beli, Tapi Bangun Ekosistem
Alasan di balik kedekatan itu bukan cuma soal belanja persenjataan. Prabowo menegaskan setiap akuisisi alutsista dari Prancis harus membawa alih teknologi bagi industri pertahanan dalam negeri.
“Prancis adalah salah satu mitra utama Indonesia dalam modernisasi alutsista pertahanan, termasuk dalam pengembangan industri pertahanan melalui produksi bersama dan alih teknologi,” kata Prabowo.
Dalam pertemuan di Istana Élysée, kedua negara sepakat mendorong ko-produksi hingga kolaborasi teknologi persenjataan — langkah yang memungkinkan Indonesia membangun ekosistem industri pertahanan yang lebih mandiri.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menyebut ada empat bidang utama yang disasar: pertahanan, pendidikan, energi, dan pengelolaan mineral kritis.
“Karena kita telah memperoleh sejumlah alutsista dari Prancis, diperlukan transfer teknologi untuk penguasaan alutsista tersebut,” ujar Qodari, Minggu (31/5/2026).
Rafale hingga Kapal Selam Mulai Digarap di Dalam Negeri
Indonesia telah mengontrak 42 unit jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation, dengan nilai kontrak yang disebut-sebut mencapai USD8,1 miliar. Batch pertama tiga pesawat dijadwalkan mendarat pada awal 2026.
Selain itu, kontrak efektif pembangunan dua kapal selam Scorpene Evolved sudah berjalan sejak Juli 2025. Kapal selam itu akan dibangun di galangan PT PAL Indonesia melalui skema alih teknologi — sebuah preseden baru bagi industri galangan kapal nasional.





