Kedua, kritik terhadap kebijakan ekonomi. Peluncuran Danantara pada Februari 2025 — dana investasi negara yang langsung berada di bawah kendali kantor presiden — dinilai memiliki transparansi lebih lemah dibanding pendahulunya. Pemecatan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan pada September 2025 memperburuk persepsi ini; pasar merespons dengan salah satu kejatuhan bursa terburuk sejak krisis 1997–1998.
Ketiga, laporan-laporan tentang gelombang demonstrasi yang melanda Indonesia sepanjang 2025 — dari aksi 100 hari pemerintahan, “Indonesia Gelap,” protes revisi UU TNI, hingga gelombang protes Agustus — ditafsirkan sebagai bukti ketidakpuasan publik yang mendalami tanda-tanda kemunduran demokrasi.
The Economist: Media Independen atau Entitas dengan Kepentingan?
Untuk memahami kritik The Economist secara utuh, kita perlu memahami siapa yang berdiri di baliknya.
The Economist bukan sekadar majalah jurnalistik biasa. Ia adalah produk dari The Economist Group — sebuah perusahaan media swasta yang berkantor pusat di London. Dan sejak 2015, pemegang saham terbesarnya adalah Exor NV, perusahaan induk investasi milik keluarga Agnelli dari Italia.
Keluarga Agnelli adalah salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh di Eropa. Mereka adalah pendiri FIAT — yang kini bertransformasi menjadi raksasa otomotif Stellantis — serta pemilik Ferrari, tim sepak bola Juventus, dan berbagai portofolio investasi lintas benua. Melalui Exor, keluarga ini menguasai sekitar 43,4 persen saham The Economist Group, menjadikan mereka pemegang saham tunggal terbesar.
Pemegang saham signifikan lainnya termasuk keluarga-keluarga kaya Inggris: Cadbury, Layton, Rothschild, dan Schroder. Pada Oktober 2025, keluarga Rothschild bahkan sedang dalam proses menjual seluruh kepemilikan mereka sebesar 26,7 persen — perubahan kepemilikan terbesar dalam satu dekade.
Pertanyaan yang wajar muncul: apakah kepemilikan korporat ini memengaruhi editorial?
The Economist sendiri memiliki mekanisme yang dirancang untuk melindungi independensi redaksinya. Sebuah dewan independent trustees diberikan hak veto atas transfer saham bersuara dan berwenang memilih atau memecat pemimpin redaksi. Setiap pemegang saham tunggal juga dibatasi hak suaranya maksimum 20 persen — artinya meski Exor memiliki 43 persen saham, hak suara efektif mereka dibatasi secara struktural.





