Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja menggelar webinar bertajuk “Khazanah Keagamaan di Turki dan Nusantara: Diaspora dan Perjumpaan” pada Selasa (15/10) lalu. Webinar ini membahas pertautan budaya Nusantara dengan Turki Usmani, sebuah hubungan budaya yang meski terbentang lebih dari 9.000 kilometer, tetap memperlihatkan jejak yang jelas.
Herry Jogaswara, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, dilansir dari laman BRIN, menekankan pentingnya pengungkapan pengaruh Nusantara terhadap peradaban global, termasuk pada Turki Usmani.
Ia menyebutkan keterlibatan BRIN dalam IRCICA (Research Center for Islamic History, Art and Culture) yang berpusat di Istanbul sebagai bagian dari upaya tersebut. Menurutnya, riset-riset yang dikembangkan BRIN dapat memperlihatkan pengaruh Nusantara di berbagai wilayah, khususnya Timur Tengah.
Salah satu pemateri, Nurman Kholis, peneliti di Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR KKP) BRIN, memaparkan universalisme Islam ala Maulana Jalaluddin Rumi. Ia menggambarkan perjalanan seni tari Sema yang tersebar dari Timur hingga Barat, dan membahas temuan koin kuno Turki di Nusantara.
Koin-koin tersebut menjadi bukti adanya interaksi antara kedua wilayah, termasuk koin dari masa Maulana Jalaluddin Rumi yang ditemukan di Banjarmasin dan Baturaja. Informasi ini diperoleh dari Museum Uang Sumatera dan Asosiasi Numismatik Nusantara (ANN).
Selain itu, Ali Akbar, peneliti PR KKP BRIN, mengulas jejak seni rupa dan arsitektur Turki Usmani di Nusantara. Ia mengungkapkan bahwa beberapa Quran yang beredar di Nusantara ditulis di Turki, seperti Mushaf Palembang yang dicetak pada tahun 1848 oleh Haji Muhammad Azhari. Tradisi penulisan ayat dalam Quran ini mengikuti gaya Turki Usmani. Ia juga menyoroti perbedaan tradisi kaligrafi antara Turki dan Nusantara, di mana kaligrafi di Turki memiliki kaidah yang lebih baku dibandingkan dengan di Nusantara.
Pembahasan lain disampaikan oleh Savran Billahi dari FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang mengulas pertemuan antara Islam dan sekularisme di ranah pendidikan. Ia membandingkan pendidikan Islam di Indonesia dan Turki, serta peran negara dalam mengakomodasi institusi pendidikan.




