Percaya Wali Songo Cuma Mitos adalah Tanda Kemunduran Intelektual

Kepentingan kolonialisme telah mendegradasi sejarah Islam di Indonesia, terutama yang diajarkan Wali Songo. | ILUSTRASI Samudrafakta
Narasi bahwa Wali Songo hanyalah mitos terus-menerus bergaung. Mengulang propaganda kolonial yang bertujuan mencabut Islam Nusantara dari akar budayanya.

__________

Dalam beberapa tahun terakhir, wacana yang menyebut Wali Songo sebagai tokoh fiktif kembali bermunculan. Pendapat ini umumnya digaungkan oleh penceramah-penceramah yang menganut paham Islam transnasional, bahkan liberal.

Mereka menolak kehadiran Wali Songo sebagai fakta sejarah, dan menyebutnya sekadar dongeng tanpa bukti otentik. Gamelan, wayang, dan pendekatan budaya dalam dakwah dianggap tak sesuai syariat. Media sosial pun menjadi panggung baru untuk menyebarkan narasi ini.

Bacaan Lainnya

Namun, ini bukan isu baru. Sejarawan Agus Sunyoto menegaskan, gagasan ini merupakan warisan kolonial Belanda.

Rasionalitas Eropa vs Spiritualitas Nusantara

Menurut Agus, Pemerintah Hindia Belanda sejak awal merasa perlu untuk mendekonstruksi peran para wali dalam sejarah Nusantara. Rasionalitas ala Eropa yang mereka bawa tak cocok dengan spiritualitas lokal yang menjadi kekuatan dakwah para wali.

Wali Songo yang dikenal punya karamah dan berdakwah lewat budaya, dianggap irasional. Maka diciptakanlah narasi tandingan, salah satunya lewat manipulasi sastra Jawa.

Contoh nyata terlihat pada Babad Kediri (1832) karya Mas Ngabehi Poerbawidjaja, atas pesanan Residen Belanda. Dalam babad itu, Sunan Giri dan Sunan Bonang digambarkan buruk, bahkan absurd—misalnya kesurupan jin Buto Locaya.

Narasi tandingan itu juga hadir dalam Serat Syekh Siti Jenar, yang menyebut para wali membunuh Syekh Jenar dan mengganti jasadnya dengan bangkai anjing. Agus menyebut ini sebagai propaganda untuk merusak citra Islam damai dan berbudaya yang dirintis para wali.

Kontinuitas Upaya Modern

Serangan terhadap eksistensi Wali Songo tak berhenti di era kolonial. Ensiklopedia Islam (terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993) misalnya, sama sekali tak mencantumkan nama-nama Wali Songo. Sebaliknya, ia justru menonjolkan tokoh-tokoh penyebar Wahabi di Sumatera Barat.

Islam bahkan digambarkan baru masuk ke Indonesia pada tahun 1803—versi yang mengabaikan penyebaran Islam ratusan tahun sebelumnya di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera.

Pos terkait