Percaya Wali Songo Cuma Mitos adalah Tanda Kemunduran Intelektual

Kepentingan kolonialisme telah mendegradasi sejarah Islam di Indonesia, terutama yang diajarkan Wali Songo. | ILUSTRASI Samudrafakta

Puncaknya, pada 2006 terbit buku Walisanga Tak Pernah Ada karya Sjamsudduha. Buku ini terang-terangan menyimpulkan bahwa Wali Songo adalah hasil imajinasi belaka.

Di media sosial, narasi serupa digaungkan oleh penceramah seperti Abu Yahya Badrussalam, dan pengguna seperti “Guru Gembul”. Mereka menolak segala bentuk dakwah kultural, dan menyebut Wali Songo tak punya bukti sejarah kuat.

Fakta yang Terus Diperkuat

Narasi-narasi itu tak dibiarkan tanpa tanggapan. Habib Luthfi bin Yahya, ulama karismatik dari Pekalongan, dengan tegas menolak standar sejarah yang hanya mengandalkan tulisan. Ia menyindir: “Apakah karena Sayidina Abu Bakar dan Umar tak meninggalkan kitab, lantas mereka dianggap mitos?”

Bacaan Lainnya

Agus Sunyoto menjawab dengan riset serius. Lewat Atlas Wali Songo, ia memetakan penyebaran Islam di Jawa secara ilmiah—berbasis prasasti, tradisi budaya, teknologi irigasi, hingga sistem pengobatan.

Agus menegaskan, sumber primer tentang Wali Songo mayoritas beraksara Jawa, bukan Arab. Karena itu, mereka yang tak memahami aksara dan budaya Jawa kerap keliru menilai.

KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) bahkan mewanti-wanti, tanpa karya seperti Atlas Wali Songo, anak-anak Indonesia hanya akan mengenal sejarah Islam versi Belanda.

Senada dengan itu, budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun menyebut dakwah Wali Songo sebagai dakwah yang menyentuh aspek kemanusiaan. Bukan sekadar soal syariat. Sementara Sujiwo Tejo mengingatkan: “Tanpa pemahaman terhadap warisan para wali, umat Islam hanya akan jadi mukmin, bukan muhsin.”

Jangan Tinggalkan Sejarah

Agus Sunyoto menutup dengan peringatan tajam: jika generasi muda tercerabut dari akar sejarahnya, maka orientasi hidup mereka akan ikut bergeser. Bahkan, ukuran kecantikan pun bisa berubah mengikuti standar Barat, bukan lagi kearifan lokal.

Wali Songo bukan mitos. Mereka adalah fondasi Islam Nusantara. Dakwahnya berpijak pada seni, budaya, dan kebijaksanaan lokal—bukan pemaksaan.

Maka, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.***

Pos terkait