Mengapa Ada Nakes yang Dinilai Kurang Empati? Pakar Unair Soroti Masalah Sistemik

Isu Nirempati Nakes
Ilustrasi dokter. (Pixabay)

Andria menekankan bahwa pemerintah perlu segera membenahi sistem kesehatan Indonesia dengan memberikan subsidi pendidikan kedokteran agar lebih merata. Selain itu, Andria mempertegas pentingnya pembekalan karakter empati sejak mahasiswa duduk di bangku kuliah. Menurutnya, nakes harus mampu memberikan penjelasan medis dengan bahasa awam tanpa terkesan terburu-buru atau meremehkan.

“Pendidikan di Indonesia, khususnya kedokteran, biayanya sangat tinggi sehingga dokter sering berpindah instansi praktik untuk menstabilkan finansial. Sebenarnya pembekalan empati itu harus dimulai dari awal saat masih mahasiswa kedokteran. Pasien itu tidak hanya sekadar butuh sembuh, tetapi diorangkan itulah yang lebih penting,” jelasnya.

Di era digital saat ini, banyak nakes yang aktif membuat konten edukasi kesehatan di media sosial. Andria mempertegas bahwa hal tersebut sangat diperbolehkan selama para nakes dapat mematuhi batasan etika dan profesionalitas. Tenaga medis dilarang keras menyorot wajah atau kondisi pasien tanpa adanya izin tertulis.

Bacaan Lainnya

Andria juga menyoroti seringnya terjadi miskomunikasi antara pasien dan pihak rumah sakit terkait prosedur pelayanan. Di lapangan, tenaga medis juga kerap menghadapi pasien yang bertindak seperti raja dan meminta prioritas tanpa memahami bahwa penanganan medis selalu didasarkan pada tingkat kedaruratan penyakit (triage).

“Pasien tidak boleh bersikap semena-mena layaknya ‘raja’ dan tetap menghargai wewenang medis yang sedang bekerja. Sebaliknya, para nakes juga sebaiknya bisa lebih sabar dan menjaga tutur kata agar tidak melukai hati pasien yang sudah menderita akibat penyakitnya. Selain itu, Perbaikan fasilitas dari pemerintah serta tumbuhnya rasa empati dari kedua belah pihak adalah kunci utama terwujudnya sistem kesehatan yang ideal di Indonesia,” pesannya. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan