Para peneliti dari Universitas Toho, Jepang, memperkirakan matahari akan menghancurkan semua kehidupan di Bumi paling lambat tahun 1.000.002.021.
__________
Menurut mereka, pada akhirnya matahari akan mengembang menjadi ‘raksasa merah’ dan menelan Merkurius, Venus, dan Bumi. Kendati demikian, bumi diperkirakan sudah lama punah sebelum itu.
Para ilmuwan itu memperkirakam fenomena bakal terjadi sekitar lima miliar tahun lagi, ketika bintang tersebut selesai membakar hidrogennya—yang memaksa lapisan luar mengembang dan memakan tiga planet bagian dalam dan Bulan.
Peneliti percaya tidak akan ada orang yang melihatnya karena, pada saat tahun satu miliar, kondisi di Bumi sudah terlalu buruk untuk mendukung kehidupan.
Energi termal dari matahari akan menghancurkan organisme di planet ini dengan panas yang mematikan dan lontaran massa koronal, serta pelepasan sinar gamma yang sangat radioaktif.
Dua fenoma terakhir itu sudah terjadi melalui fenomena suar matahari, yang jika menghantam Bumi dapat mengganggu komunikasi radio, operasi satelit, dan sistem GPS.
Manusia tidak secara langsung dirugikan oleh atmosfer planet ini, meski dapat berubah dalam jutaan tahun mendatang, tergantung pada tingkat aktivitas matahari dan perubahan iklim.
Umat manusia mungkin tidak punah saat itu, berdasarkan bagaimana teknologi berkembang. Manusia kemungkinan dapat menyebar melintasi bintang-bintang dan mulai menjajah planet-planet lain di galaksi Bima Sakti—dengan Mars sebagian besar diperkirakan menjadi yang pertama dalam agenda.
Namun, ancaman yang lebih mendesak bukanlah perluasan matahari, tetapi adalah perubahan iklim. Peningkatan suhu global berpotensi mengakhiri periode Holosen dan menyebabkan gangguan besar pada pola cuaca di seluruh planet.
Hal ini dapat menyebabkan lebih banyak bencana alam, serta kerusakan tanaman dan panen, yang menempatkan manusia di bawah tekanan kritis.
Oksigen di Bumi Doprediksi Bakal Menipis
Sebelumnya, pada 2021, Kazumi Ozaki dari Toho University di Funabashi, Jepang, dan Chris Reinhard dari Georgia Institute of Technology di Atlanta, AS, juga memprediksi, satu miliar tahun dari sekarang, oksigen di atmosfer Bumi akan menipis, yang membuat planet ini tak akan bisa dihuni lagi bagi kehidupan aerobik yang kompleks.
Ketika periode itu tiba, mereka memperkirakan Bumi akan kembali ke sejarah awalnya, ketika kadar oksigen jauh lebih rendah daripada saat ini.
Ozaki dan Reinhard memperkirakn bahwa, dalam semiliar tahun ke depan, kadar karbon dioksida di atmosfer akan menjadi begitu rendah sehingga organisme fotosintesis—termasuk tumbuhan—tidak akan mampu bertahan dan memproduksi oksigen.
Kepunahan massal dari organisme fotosintetik ini pada gilirannya akan menjadi penyebab utama dari pengurangan oksigen. “Pengurangan oksigen akan sangat, sangat ekstrem—kita bicara sekitar sejuta kali lebih rendah daripada kadarnya saat ini,” kata Reinhard.
Para peneliti juga memperkirakan, secara bersamaan akan ada peningkatan kadar metana sampai setinggi 10 ribu kali jumlahnya di atmosfer saat ini. Begitu perubahan mulai terjadi dalam atmosfer Bumi, mereka akan berkembang cepat. Dan menurut kalkulasi tim peneliti, atmosfer bisa kehilangan oksigen hanya dalam 10 ribu tahun kemudian.
“Biosfer tidak dapat beradaptasi terhadap pergeseran dramatis dalam perubahan lingkungan,” kata Ozaki.
Setelahnya, kehidupan di Bumi akan dikuasai mikroba. “Sebuah dunia di mana banyak bakteri anaerobik dan primitif yang saat ini bersembunyi akan, kembali, mengambil alih,” kata Reinhard.
Kehidupan terestrial akan menghilang, begitu juga di laut. Lapisan ozon—yang tersusun dari oksigen—akan menipis, menjadikan Bumi dan lautannya terpapar sinar ultraviolet konsentrasi tinggi dan panas dari matahari. ***





