“Kami akan lakukan hal yang sama di tahun depan. Kami buka (pendaftaran) mulai hari ini, sehingga tidak ada warga yang tertinggal. Kami berharap banyak pasangan nikah baru. Insyaallah akan kami lakukan yang lebih besar lagi dengan konsep garden party. Nanti kami bahas dengan koordinator pengusaha jasa pernikahan,” jelas Eri.
Menurut Koordinator Pengusaha Jasa Pernikahan Kota Surabaya, Malik Atmaja, ada 374 vendor yang ikut mendukung isbat nikah dan nikah baru massal itu.
“Tahun kemarin kami menghitung biaya untuk 125 peserta mencapai Rp5 miliar. Di tahun ini, dengan 225 peserta, mencapai Rp7.480.000.000. Karena sangat banyak yang mendukung acara ini. Antusiasnya sangat luar biasa,” kata Malik.
Untuk mendukung program “penghalalan pasangan” secara massal di Surabaya, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya membuka pelayanan “Duo Lontong”; yaitu Lontong Balap (Layanan Online Terpadu One Gate System Bersama Dispendukcapil dan Pengadilan Negeri) dan Lontong Kupang (Layanan Online Terbaru One Gate System antara Dispendukcapil Surabaya, Pengadilan Agama Surabaya).
Program terakhir—yaitu Lontong Kupang—untuk memfasilitasi pasangan yang telah lama menikah namun belum memiliki dokumen pernikahan resmi, untuk ikut program isbat nikah. Dan salah satu pasangan yang menerima manfaat program tersebut adalah Maki (77) dan Nurhati (68).
Kadariyati (49), anak Maki dan Nurhati, mengaku bersyukur karena kedua orang tuanya telah memiliki dokumen pernikahan, memanfaatkan pelayanan Lontong Kupang.
“Sebelumnya kesulitan mengganti KK ber-barcode. Jadi saya mengajak orang tua memanfaatkan layanan Lontong Kupang. Saya sangat berterima kasih karena dengan terselenggaranya isbat nikah melalui layanan Lontong Kupang, orang tua saya bisa mempunyai surat pernikahan dan sudah tercatat di negara,” katanya.
*Foto: Salah satu pasangan peserta nikah massal Pemkot Surabaya. (SF | Yadi)





