Pemerintah RI mengeklaim tengah merancang aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung ketahanan pangan. Rencananya, aplikasi ini akan resmi diperkenalkan pada Agustus 2025 mendatang dan melibatkan puluhan ribu talenta digital diaspora.
__________
Pernyataan di atas keluar dari Menteri Komunikasi dan Digital (MenKomdigi), Meutya Hafid, saat berbicara di forum teknologi internasional Machines Can See 2025 di Dubai, Uni Emirat Arab.
Dalam sesi panel berjudul Wanted: AI to Retain and Attract Talents to the Country, Meutya menyampaikan bahwa isu keamanan pangan menjadi perhatian utama Presiden Prabowo Subianto di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Pendidikan menjadi dasar penting yang dipegang Indonesia. Dengan pengembangan AI, kami percaya bahwa kecerdasan manusia yang merancang dan mengatur AI harus tetap lebih unggul dari kecerdasan buatan itu sendiri,” ujar Meutya, dikutip dari siaran pers Komdigi yang dirilis pada Senin, 28 April 2025.
Menurut Meutya, aplikasi AI ini akan memperkuat sistem ketahanan pangan nasional melalui pemantauan produksi dan distribusi pangan berbasis data.
Isu diaspora digital juga menjadi perhatian. Meutya menyampaikan bahwa sekitar delapan juta warga negara Indonesia kini tinggal di luar negeri, termasuk 20.000 di antaranya yang bekerja di Silicon Valley.
“Jadi, mereka sekarang berkecimpung dalam bidang inovasi perangkat lunak AI. Sementara banyak dari mereka mungkin tidak lagi terhubung erat dengan lanskap domestik Indonesia, tetapi kami masih melihat mereka sebagai bagian dari kekuatan nasional kami. Kami lebih suka menggunakan istilah brain link daripada brain drain,” terangnya.
Sebagai bagian dari semangat inklusivitas, Indonesia juga tengah membangun pusat keunggulan AI di beberapa kota, termasuk Bandung, Surabaya, dan Papua.
Kenapa AI di Bidang Pertanian Perlu?
Dirangkum dari berbagai sumber, ada beberapa alasan yang menjelaskan kenapa AI di bidang produksi pangan itu penting, yaitu:





