Pemerintah Bakal Tambah Kuota Impor Minyak dari AS, Katanya Biar Trump Turunkan Tarif Impor untuk Indonesia

Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. | Instagram @ melangkahdaritimur.id
Menteri ESDM atau Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan, pemerintah berencana meningkatkan impor minyak mentah, liquefied petroleum gas atau LPG, hingga bahan bakar minyak alias BBM hingga USD10 miliar atau Rp168,56 triliun dari Amerika Serikat (AS).

_________

Bahlil menyampaikannya setelah bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto selama kurang lebih empat jam di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 17 April 2024.

Kata Bahlil, dalam pertemuan dengan Presiden itu, salah satu bahasannya adalah langkah pemerintah menyikapi tarif impor AS.

Bacaan Lainnya

Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif impor minimal 10 persen dan tarif resiprokal atau timbal balik atas produk asal Indonesia 32 persen. Tapi penerapannya ditunda 90 hari.

“Sekarang kan 54 persen impor LPG dari Amerika,” kata Bahlil usai pertemuan.

Bahlil menambahkan, pemerintah berencana menambah volume impor minyak mentah dari AS hingga 40 persen, dari total kebutuhan dalam negeri.

Indonesia saat ini baru membeli minyak mentah dari AS sekitar 4 persen untuk pemenuhan domestik. Maka dari itulah, kata Ketua Umum Partai Golkar itu, importasi BBM dari AS akan dikerek.

“Detailnya nanti setelah saya melakukan pembahasan teknis dengan tim teknis dan Pertamina,” katanya.

Bahlil mengeklaim pemerintah tidak akan menambah kuota impor nasional. Peningkatan impor dari AS itu, kata dia, dilakukan dengan mengalihkan kuota impor dari negara lain. Maksudnya, volume pembelian minyak dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara bakal dikurangi.

“Tinggal dipindah saja (impor minyak) ke Amerika. Itu tidak membebani APBN dan tak menambah kuota impor. Ini persoalan dagang, tidak ada kewajiban bahwa harus sama dengan yang sekarang,” katanya.

Mantan Menteri Investasi 2021 – 2024 itu bilang, upaya meningkatkan impor minyak dan LPG dari AS adalah bagian dari strategi menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia – Amerika.

Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS, surplus perdagangan Indonesia ke AS mencapai USD14,6 miliar. Bahlil berharap, jika neraca perdagangan Indonesia dan AS sudang seimbang, Presiden Trump diharapkan dapat menurunkan tarif impor kepada Indonesia.***

Pos terkait