Angin gurun menari di atas pasir panas. Matahari menyengat seolah tak memberi jeda. Di tengah hamparan Sahara yang tak berujung, seorang pria Indonesia berlari—dengan sepasang sandal di kakinya, dan tekad yang tak bisa dibakar oleh panas.
__________
April 2025, gurun Sahara, Maroko — tempat di mana panas menjadi sahabat sekaligus lawan, dan medan bukan lagi tanah biasa, tapi ujian hidup. Di sinilah Marathon des Sables (MDS) Legendary digelar untuk ke-39 kalinya. Lomba lari ultra sejauh 250 kilometer yang dibagi dalam enam etape dan ditempuh dalam waktu tujuh hari ini bukan sekadar olahraga. Ia adalah ritual ketangguhan.
View this post on Instagram
Diego Yanuar, pelari asal Indonesia, menjadi salah satu dari mereka yang berhasil menaklukkannya. Total waktu yang ia catatkan adalah 40 jam 44 menit. Tapi lebih dari sekadar angka, adalah cerita di balik langkah-langkahnya yang membedakan Diego dari para pelari lain.
Yang membedakan? Ia memilih berlari dengan sandal.
“Saya memang lebih nyaman pakai sandal,” ujarnya singkat. Nyaman mungkin, tapi juga mengundang luka. Duri gurun tak mengenal belas kasih, dan Diego tahu itu sejak hari pertama. Tapi ia tetap melangkah, menyusuri padang pasir Maroko, membawa semua keperluan sendiri: makanan, kompas, kompor kecil. Hanya air dan tenda yang disediakan penyelenggara. Selebihnya, bergantung pada daya tahan dan kemauan diri.
MDS bukan lomba biasa. Di sinilah para pelari ultra dari seluruh dunia datang, membawa nama, semangat, dan kadang mimpi yang terlalu besar untuk ditampung kota. Sahara menjadi panggung, dan kaki mereka menulis kisahnya sendiri di atas pasir yang tak pernah tetap.
Namun bagi Diego, ini bukan pertama kalinya ia menantang batas. Pada 2018 hingga 2019, ia bersama sang istri, Marlies Fennema, pernah bersepeda dari Belanda ke Indonesia, menempuh perjalanan lintas benua melalui 23 negara. Kisah itu kemudian diabadikan dalam film dokumenter berjudul The Bike’s Journal.





