Yang membedakan? Ia memilih berlari dengan sandal.
“Saya memang lebih nyaman pakai sandal,” ujarnya singkat. Nyaman mungkin, tapi juga mengundang luka. Duri gurun tak mengenal belas kasih, dan Diego tahu itu sejak hari pertama. Tapi ia tetap melangkah, menyusuri padang pasir Maroko, membawa semua keperluan sendiri: makanan, kompas, kompor kecil. Hanya air dan tenda yang disediakan penyelenggara. Selebihnya, bergantung pada daya tahan dan kemauan diri.
MDS bukan lomba biasa. Di sinilah para pelari ultra dari seluruh dunia datang, membawa nama, semangat, dan kadang mimpi yang terlalu besar untuk ditampung kota. Sahara menjadi panggung, dan kaki mereka menulis kisahnya sendiri di atas pasir yang tak pernah tetap.
Namun bagi Diego, ini bukan pertama kalinya ia menantang batas. Pada 2018 hingga 2019, ia bersama sang istri, Marlies Fennema, pernah bersepeda dari Belanda ke Indonesia, menempuh perjalanan lintas benua melalui 23 negara. Kisah itu kemudian diabadikan dalam film dokumenter berjudul The Bike’s Journal.
Marathon des Sables hanya menjadi babak lanjutan dari perjalanan hidup yang berani dan tak biasa. “Setiap langkah adalah pelajaran,” kata Diego dikutip dari RRI. Diego Yanuar yang tak hanya membawa semangat pribadi, tapi juga mewakili mimpi anak bangsa untuk bisa hadir dan bertahan di panggung dunia.
Diego membuktikan bahwa tekad manusia bisa melampaui segala yang mustahil. Di gurun yang sunyi itu, ia tak hanya berlari—ia menulis ulang arti ketangguhan.




