Fenomena “MBG” Dinilai Bergeser dari Satire Jadi Alat Populerkan Figur Politik

Ilustrasi satire politik yang berubah menjadi komoditas algoritma di ruang digital.
Pakar budaya digital menilai lagu viral “MBG Mas Bahlil Ganteng” yang awalnya sebagai satire politik kini bergeser menjadi alat reproduksi popularitas akibat logika algoritma media sosial.

Jagat media sosial Indonesia tengah diramaikan oleh viralnya lagu “My Little Bolu Ketan” atau yang dikenal dengan jingle “MBG: Mas Bahlil Ganteng”. Lirik lagu yang menyebut nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, ini telah diunggah ulang oleh banyak warganet di berbagai platform.

Menurut penelusuran CNNIndonesia.com, lagu ini pertama kali diunggah oleh akun TikTok @VOKALIS_NETIZEN pada 29 April 2026 dan kini telah ditonton 14,8 juta kali serta disukai 1,1 juta akun. Lirik lagu tersebut diambil dari kumpulan komentar warganet terhadap Bahlil dan dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Bacaan Lainnya
Dari Satire Politik Menjadi Komoditas Algoritma

Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, menilai fenomena ini menarik dibaca sebagai bagian dari dinamika politik digital kontemporer di Indonesia. Menurutnya, Bahlil memiliki rekam jejak panjang dalam perdebatan media sosial. “Karena itu, kemunculan MBG tidak lahir di ruang kosong, melainkan bertemu dengan memori kolektif netizen terhadap figur yang memang sudah lama menjadi objek perhatian digital,” ujar Radius, Kamis (28/5/2026).

Radius menjelaskan, awalnya lagu ini merupakan bentuk satire politik. “Humor digital dalam konteks ini berfungsi sebagai bahasa kritik publik terhadap penguasa,” tegasnya. Namun, ia melihat adanya pergeseran fungsi akibat cara kerja algoritma. Algoritma media sosial hanya bergerak berdasarkan logika atensi, bukan konteks.

“Akibatnya, kritik politik berpotensi kehilangan orientasi reflektifnya lalu berubah menjadi komoditas hiburan semata. Dalam ekosistem digital, bahkan parodi dapat menjadi kapital visibilitas,” imbuhnya. Hal ini menimbulkan paradoks: di satu sisi kritik publik tersampaikan, di sisi lain viralitas justru membangun citra personal figur yang dikritik.

Pos terkait