Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengimbau masyarakat menggunakan energi secara bijak di tengah lonjakan harga global akibat konflik Timur Tengah, seraya memastikan pasokan energi nasional masih aman untuk jangka pendek.
Imbauan itu disampaikan seiring dengan rencana pemerintah menerapkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) yang ditargetkan mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) hingga 20 persen.
“Sekalipun kita sudah dalam kondisi yang baik, saya memohon dukungan dari semua rakyat Indonesia. Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah tapi masalah kita semua,” ujar Bahlil, Jumat (27/3).
Larangan ‘Panic Buying’ dan Penimbunan BBM
Bahlil mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying, apalagi hingga diperjualbelikan kembali. Ia menegaskan bahwa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat, bukan untuk kepentingan industri atau praktik penimbunan.
“Jangan sampai masih ada yang ngantre di SPBU-SPBU, mobil-mobil truk, padahal isinya bukan untuk ngangkut, tetapi itu abis itu diantri, abis itu dijual lagi. Ya ini saya pantau terus di lapangan,” katanya.
Ia meminta masyarakat menyesuaikan pembelian BBM dengan kebutuhan harian. “Kalau satu hari cukup 30 liter atau 40 liter, ya cukup. Tidak usah ada rasa panik. Pakailah secukupnya,” ujar Bahlil.
Hemat LPG Juga Jadi Perhatian
Bahlil juga mengajak masyarakat memulai langkah sederhana dalam menghemat energi, salah satunya dengan menggunakan LPG secara efisien.
“Contoh katakanlah kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak jangan kompornya boros,” pintanya.
Meski pasokan gas nasional masih dalam kondisi baik, partisipasi masyarakat tetap dibutuhkan untuk menjaga ketersediaannya.
Pasokan Energi Nasional Aman, Tapi Masih Bergantung Impor
Bahlil menyebut Indonesia tidak lagi mengimpor solar, sementara sekitar 50 persen kebutuhan bensin dan 70 persen LPG masih bergantung pada impor. Meski demikian, pasokan dalam jangka pendek tetap terjaga.





