Meski demikian, Polri dan Densus 88 Antiteror belum menetapkan motif final. Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan, penyelidikan masih berfokus pada asal bahan peledak, motif pribadi, dan kemungkinan keterkaitan dengan pihak lain.
“Belum ada indikasi jaringan teror. Semua masih kami telusuri berdasarkan bukti di TKP,” katanya.
Langkah Penyelidikan
Setelah kejadian, tim Gegana Brimob, Puslabfor Polri, dan Densus 88 melakukan olah TKP dan pengamanan area masjid.
Sampel bahan peledak telah dikirim ke laboratorium forensik untuk dianalisis. Pihak kepolisian juga memeriksa rekaman CCTV di area sekolah serta mengumpulkan keterangan dari guru dan siswa.
Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta dalam menangani dampak pasca-ledakan, termasuk evakuasi korban dan pendampingan keluarga.
“Fokus kami saat ini adalah pemulihan korban, investigasi teknis, dan pemeriksaan mendalam terhadap pelaku,” kata Kapolda Metro Jaya.
Penanganan Korban dan Tindak Lanjut
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan seluruh biaya perawatan medis korban ditanggung Pemprov DKI.
“Pemprov menanggung seluruh biaya rumah sakit dan akan menyiapkan layanan pendampingan psikologis bagi siswa dan guru,” ujarnya di RS Islam Jakarta, Jumat malam.
Kegiatan belajar mengajar di SMAN 72 sementara diliburkan, dan area masjid tetap ditutup untuk kepentingan penyelidikan.
Tim dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta serta Dinas Kesehatan membuka posko trauma healing untuk siswa dan keluarga korban.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap sistem bimbingan konseling dan pencegahan perundungan di sekolah-sekolah negeri pasca insiden ini.***





