Pecel, Menu yang Banyak Disebut dalam Naskah Kuno Nusantara

Pecel juga tercatat dalam kitab Jawa populer, yakni Serat Centhini, yang menjadi koleksi Badan Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta. Serat Centhini ditulis pada tahun 1800.

Serat itu menceritakan kedatangan Syekh Wali Lanang dari Tanah Arab ke Jawa—yang kemudian menurunkan Sunan Giri. Singkat cerita, Sunan Giri Prapen memiliki tiga putra yakni, Jayengresmi, Jayengsari, dan Niken Rancangkapti.

Raden Jayengresmi dikisahkan mengembara melewati Surabaya, Kediri, Bojonegoro, Rembang, Pekalongan, Purwodadi, Semarang, Cirebon, Karawang hingga Bogor, dikawal oleh dua santrinya, Gathak dan Gathuk.

Bacaan Lainnya

Sesampainya di Dukuh Argapura, Raden Jayengsari dan adiknya memikirkan dan membayangkan makanan yang ingin mereka makan, yaitu sekul pulen, panggang pudhak, jangan menir, pecel dhere, dhendheng menjangan gepuk, lalap seledri, kue koci, carabikang, mendut, dan timus.

Sedangkan, abdinya yang bernama Buras membayangkan sekul gaga blenyik putih, pecel iso myang semanggi, dan dhendheng pendul maesa. Saat itu, pecel menjadi salah satu hidangan yang disajikan untuk Jayengsari.

Serat Centhini juga menyebutkan hidangan berbahan buah atau sayur, yang kemudian berkembang menjadi hidangan pecel saat ini. Selain itu, pecel juga disajikan sebagai menu jamuan bagi para rombongan kerajaan.

Dengan adanya berbagai catatan dalam naskah-naskah kuno tersebut, maka bisa dikatakan pecel termasuk makanan kuno yang tetap bertahan, eksis, dan diminati hingga era modern saat ini. Anda dapat mencicipi ragam dan jenis pecel dari beberapa daerah, mulai dari pecel Madiun, pecel pincuk, pecel Blitar, hingga pecel Tumpang.

(Septia | Diolah dari Berbagai Sumber)

Pos terkait