“Nyadran Petak”, Tradisi Islami Sufistik untuk Merefresh Diri Secara Spiritual dan Sosial

Acara Nyadran 2025 digelar di Komplek Pemakaman Pondok Pesantren Al-Huda Petak Susukan Kabupatan Semarang. Ratusan warga yang hadir sedang berdoa bersama membaca Tahlil. (Foto: Dok. Samudrafakta)

“Bagi mereka yang antipati terhadap tradisi Nyadran, membidahkan, bahkan menganggap syirik,  harus tahu hal ini. Lantas syiriknya di mana?”, tandas dosen yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang ini.

Formasi kultural Nyadran, kata  Nazil, juga berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat untuk “merefresh” diri secara spiritual dan sosial, mencari penyeimbang batin, dan sejenak lepas dari cengkeraman gadget dan dunia digital.

Sementara itu, menurut Sulton Kurniawan, pengasuh Ponpes Madrasatul Quran, Susukan, Kab. Semarang, dalam tradisi nyadran terdapat ajaran tasawuf. Pertama, syauq (kerinduan), dalam hal ini adalah rindu yang bersumber dari hati yang merupakan buah cinta yang mendalam.

“Rindu yang dimaksud adalah cinta yang mendalam pelaku nyadran yang harus bisa mencintai Tuhan, manusia, dan alam sebagai wujud hamba yang taat,” urai Sulton, Selasa.

Kedua, taubat adalah unsur sufisme berikutnya yang ada di dalam nyadran.”Melalui nyadran, masyarakat bisa sadar dan introspeksi diri. Jika demikian akan berpotensi besar untuk bertaubat atas segala kesalahan yang pernah diperbuat”, imbuhnya.

Ketiga, zuhud, orang yang sudah bertaubat pasti akan melakukan maqamat berikutnya berupa zuhud. Dalam hal ini yang ditinggalkan adalah dunia secara batiniah karena dalam hal ini meninggalkan bukan berati tidak membutuhkan dunia.

Keempat, ada al-Hikmah dan al-Iffah. Al-Hikmah, aspek kearifan, di mana nyadran sendiri salah satu bentuk kearifan lokal. Sedangkan al-Iffah merupakan menjaga kesucian, meliputi kedermawanan, keteguhan hati, dan wara’. Aktualiasai al-Iffah termanifestasi dalam hablum minallah, hablum minalalam, dan hablum minannas. ***