Masyarakat Petak, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang dan sekitarnya menggelar acara Nyadran di kompleks Pemakaman Pondok Pesantren Al-Huda Petak, Selasa, 18 Februari 2025. Acara yang dihadiri ratusan warga sekitar, bahkan sebagian hadir dari luar kota, seperti Kabupaten Boyolali, dan Kota Salatiga, berlangsung dari pukul 08.00 sampai menjelang Zuhur.
Tradisi nyadran bagi masyarakat Jawa, khususnya di Kelurahan Sidoharjo, sudah menjadi tradisi turun temurun yang terus dirawat. Khazdik, seorang warga yang hadir di acara Nyadran Petak, mengatakan, rutin mengikuti acara ini, karena kedua orangtuanya di makamkan di kompleks pemakaman Ponpes Al-Huda Petak.
“Ini cara saya untuk birrul walidain, mengagungkan, menghormati, dan mendoakan arwah orang tua dan leluhur,” kata Khadzik kepada reporter Samudrafakta, Selasa, 18 Februari 2025.
“Praktik nyadran di sini diisi dengan membersihkan kubur (besik kuburan), pengajian, dan tahlilan”, imbuh Khazdik. Sementara itu, peserta nyadran lainnya, M. Nazil Iqdami menyampaikan makna filosofis nyadran.
“Nyadran berasal dari Bahasa Arab, shodron yanģ artinya dada. Tradisi nyadran mengajarkan manusia kon do ndodo, kon do rumongso, kon do iling Sangkan Paraning Dumadi. Filosofi ini, tak lain dari potongan ayat dari surat Al-Baqarah (156), yaitu inna lillahi wa inna ilaihi raj’un,” urai Nazil.
Nazil menambahkan, praktik nyadran di tiap daerah berbeda namun intinya sama dan sudah memenuhi prinsip Islam. Pertama, mereka melakukan tasyakuran kepada Allah lewat doa bersama, tahlilan, pengajian, dan lain-lain.
Kedua, penyucian diri dari aspek jasmani dan rohani untuk menyambut bulan suci Ramadan. Mereka bersyukur dan melakukan tasyakuran karena masih diberi umur, kesehatan, dan kekuatan untuk bertemu dengan Ramadan. Ketiga, penghormatan pada leluhur dengan cara mengirimkan doa kepada mereka.
Keempat, menjaga tradisi kerukunan antarsesama. Kelima, menjaga humanisme dengan manusia, alam, leluhur, dan wahana mendekatkan diri pada Allah.