Menyambut Bandara Dhoho Kediri: Jangan Lagi Sepi Seperti Kertajati!

Proyek Bandara Dhoho Kediri dipotret melalui tangkapan layar Google Maps. Foto:Tangkapan Layar Google Maps.

Bandara Dhoho Tergantung Korporasi

Ramai atau tidaknya Bandahara Dhoho diperkirakan sangat bergantung pada korporasi. Berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Kota Kediri memiliki PDRB Rp153 triliun. Sedangkan PDRB Kediri Rp47 tiliun. Total nilainya Rp200 triliun. Sementara kontribusi PT Gudang Garam Tbk saja sudah mencapai Rp 125 triliun.

“Berdasarkan data tersebut, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah mengembangkan ekonomi masyarakat melalui pertumbuhan korporasi di Kediri Raya,” kata Iman Supriyono, pakar korporasi seperti dilansir JPNN, Senin (5/12/2023).

Bacaan Lainnya

Prof. Dr. Bambang Supriyono MS, pakar kebijakan publik, menekankan bahwa keberadaan bandara harus mencakup sampai terselenggaranya pelayanan publik yang optimal. Untuk mencapai hal tersebut, harus ada kolaborasi antara para pemangku kebijakan. Mereka harus memiliki visi yang sama untuk memajukan pembangunan Kediri Raya. Masing-masing pihak harus menurunkan ego-sektoral, agar kolaborasi dapat terwujud.

Jika kolaborasi terjadi, maka pengembangan pariwisata, peternakan, pertanian, dan sosial di Kediri Raya berjalan secara menyeluruh. Tidak hanya satu daerah saja, melainkan 8 daerah di sekitar Bandara Dhoho Kediri juga merasakan “gula-gula” imbas pembangunan bandara.

Harapan publik melambung tinggi seiring beroperasinya Bandara Dhoho. Mereka berharap bandara  benar-benar menjadi pengungkit pertumbungan ekonomi di wilayah mataraman. Jangan sampai bandara Dhoho sepi penumpang setelah diresmikan Presiden Jokowi.

 

Pos terkait