Menteri-menteri Muhammadiyah yang Perkuat Kabinet Merah Putih

Menteri Muhammadiyah
Menteri-menteri dari Muhammadiyah yang memperkuat Kabinet Merah Putih 2024-2029. Foto:PWM Jateng
Kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menarik perhatian publik karena komposisinya yang menarik. Di antara para tokoh nasional yang bergabung, sejumlah kader Muhammadiyah turut dipercaya mengisi posisi penting sebagai menteri dan wakil menteri.

Kehadiran mereka menunjukkan keterlibatan aktif Muhammadiyah dalam pemerintahan dan mempertegas komitmen persyarikatan ini dalam pembangunan bangsa. Siapa saja mereka?

Menteri Dikdasmen

Dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, sosok pertama yang mencuri perhatian adalah Abdul Mu’ti. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini diangkat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Abdul Mu’ti bukanlah nama baru dalam dunia pendidikan maupun Muhammadiyah. Lahir di Kudus pada 2 September 1968, perjalanan akademisnya membentang dari Kudus hingga Australia. Setelah menamatkan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Manafiul Ulum, ia melanjutkan pendidikannya hingga mendapatkan gelar S-2 dari Flinders University of South Australia pada 1997. Tidak berhenti di situ, Mu’ti melanjutkan pendidikan S-3 di UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2008. Kiprahnya di Muhammadiyah sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015–2027 turut mewarnai keaktifannya dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan di Indonesia.

Menteri Kehutanan

Di bidang kehutanan, Raja Juli Antoni dipercaya sebagai Menteri Kehutanan. Antoni, yang lahir di Riau pada 13 Juli 1977, merupakan putra dari tokoh Muhammadiyah setempat, Raja Ramli Ibrahim. Kiprahnya di Muhammadiyah bermula di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, yang kemudian membawanya menjadi Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pada periode 2000–2002. Gelar Ph.D.-nya diraih dari Universitas Queensland, Australia, dengan kajian yang mendalam mengenai peran agama dalam pembangunan perdamaian di Asia Tenggara. Tidak mengherankan jika kepemimpinannya di Kementerian Kehutanan diharapkan membawa visi keberlanjutan yang didasari pada nilai-nilai keislaman dan lingkungan.

Bacaan Lainnya
Wakil Menteri Dikti, Sains, dan Teknologi

Fauzan, yang sebelumnya menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kini mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Lahir di Kediri pada 14 Agustus 1961, Fauzan adalah penggerak di bidang pendidikan dan sosial melalui posisinya sebagai Ketua Bidang II Majelis Ekonomi dan Pendampingan Masyarakat PP Muhammadiyah. Di bawah kepemimpinannya, UMM berkembang pesat dengan berbagai program pengabdian masyarakat, seperti Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) yang melibatkan para akademisi untuk turun langsung ke lapangan.

Wamen Dikdasmen

Tokoh muda lain yang berperan penting dalam Kabinet Merah Putih adalah Fajar Riza Ul Haq. Ia dipercaya sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, mendampingi Abdul Mu’ti. Fajar, yang lahir di Sukabumi pada 1 Februari 1979, dikenal sebagai pemikir strategis di Muhammadiyah dan saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah periode 2022–2027. Dengan latar belakang akademis dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fajar menjadi salah satu tokoh kunci dalam upaya reformasi pendidikan nasional.

Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia

Sementara itu, Dzulfikar Ahmad Tawalla terpilih sebagai Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 28 April 1987, Dzulfikar adalah tokoh muda Muhammadiyah yang tumbuh dalam lingkungan pesantren dan aktif dalam Pemuda Muhammadiyah. Pada 2023, ia diangkat sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah setelah melalui proses pemilihan yang kompetitif. Kiprah akademisnya tidak kalah cemerlang, dengan gelar Magister Komunikasi dari STIKOM InterStudi Jakarta yang diraihnya pada tahun 2021. Penunjukannya sebagai wakil menteri diharapkan mampu memperkuat kebijakan pemerintah dalam melindungi pekerja migran Indonesia, salah satu isu yang selalu menjadi perhatian Muhammadiyah.

Wakil Kepala Badan Haji dan Umrah

Dahnil Anzar Simanjuntak, putra dari Desa Salahaji, Langkat, Sumatera Utara, yang lahir pada 10 April 1982, adalah sosok yang penuh dengan transformasi. Dari akademisi hingga politisi, perjalanan hidupnya berliku dan penuh warna. Meskipun kini lebih dikenal sebagai politisi dari Partai Gerindra, jejak langkahnya di dunia akademik dan organisasi Muhammadiyah tidak bisa diabaikan.

Masa kecil Dahnil dihabiskan di Kuala Simpang, Aceh, sebelum melanjutkan pendidikan di Jakarta. Cita-citanya membawanya menjadi seorang akademisi, hingga ia diangkat sebagai Dosen Pegawai Negeri Sipil di Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Namun, dunia akademik tampaknya belum cukup menampung ambisi besarnya. Panggilan untuk terjun lebih dalam ke ranah publik datang dengan sangat kuat.

Pada 2014, titik balik penting dalam karier Dahnil tiba. Ia terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dalam Muktamar XVI yang digelar di Padang, Sumatera Barat. Kemenangan itu menjadi batu loncatan untuk perannya yang lebih luas di organisasi Islam dan politik.

Momentum besar karier politiknya datang pada 2018, ketika ia dipercaya menjadi Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo-Sandi dalam Pemilihan Presiden 2019. Keputusan tersebut memaksanya meninggalkan dunia akademik yang selama ini telah menjadi bagian besar dari hidupnya.

Tak lama setelah itu, Dahnil bergabung dengan Partai Gerindra dan resmi menjadi juru bicara Prabowo Subianto, salah satu tokoh sentral dalam politik nasional. Kini, Dahnil Anzar Simanjuntak diberi amanah baru sebagai Wakil Kepala Badan Haji dan Umrah.*

Pos terkait