Mengenang Benteng Ekonomi Sukarno: Yang Kokoh, Namun Dilupakan Kini

Sukarno membenci konsensi—atau penguasaan—lahan secara total. Kala itu di Indonesia ada wilayah-wilayah yang menjadi kantong-kantong khusus perusahaan asing. Pemerintah Indonesia tidak bisa memasukinya. Pejabat setingkat menteri pun tak bisa menapaki wilayah tersebut. Inilah yang membuat Sukarno gerah. Indonesia tuan rumah, kenapa harus dihalang-halangi seperti maling?

Sukarno langsung berkomunikasi intens dengan orang kepercayaannya di kabinet, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Chaerul Saleh. Atas instruksi Bung Karno, Chaerul menyusun UU untuk membatasi konsesi. Bung Karno dan Chaerul juga merancang strategi agar Pertamina membangun armada kapal tanker dan strategi bisnis brilian. Pertamina diproyeksikan menjadi perusahaan minyak terbesar di Asia dan dunia, yang berperan sebagai tambang modal dasar pembentukan BUMN. BUMN sendiri dipersiapkan menjadi kekuatan ekonomi-politik Indonesia.

Langkah mulai terayun. Chaerul merancang RUU anti-konsesi asing. Berkat lobi kawan-kawannya di Parlemen, RUU ini gol, lalu disahkan oleh Sukarno menjadi UU No. 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak.

Bacaan Lainnya

Poin terpenting UU itu adalah pasal 3, yang berbunyi: “Pertambangan Minyak dan Gas Bumi hanya diusahakan oleh Negara, dan pelaksanaannya dilaksanakan oleh Perusahaan Negara semata-mata”. Undang-Undang inilah yang jadi amunisi Sukarno untuk memaksa perusahaan minyak asing merevisi kontrak-kontrak pertambangan di Indonesia.

Isi UU inilah yang kemudian membuat perusahaan asing kelabakan. Sebab, karenanya, mereka harus menyerahkan 60% laba pertambangan pada Indonesia. Sukarno juga merebut Irian Barat dari Belanda. Pada 3 Mei 1963, setelah Irian resmi menjadi bagian Indonesia, Sukarno berpidato di depan Front Nasional: “Tidak ada lagi bayi-bayi yang kelaparan di bawah kemakmuran ekonomi Indonesia!” Ia ingin Indonesia makmur sepenuhnya. Untuk mencapai cita-cita itu, Sukarno memilih berdikari.

Atas dukungan Sukarno pula Chaerul Saleh tancap gas membangun industri di Indonesia. Krakatau Steel dibangun, Pupuk Sriwijaya didirikan, dan seluruh industri digerakkan dengan cepat. Indonesia digiring menuju negara Industri yang kuat dan diprediksi bakal mempunyai peran penting di muka Bumi.

Pos terkait