Mengenal Sindrom Tourette, Ketika Tubuh Bergerak di Luar Kendali. Bahayakah?

Ilustrasi Sindrom Tourette. (Istimewa)
Ada gejala fisik yang sebenarnya kerap terjadi, namun jarang disadari oleh kebanyakan orang. Namanya Tourette Syndrom atau Sindrom Tourette, sebuah sindrom di mana tetiba tubuh bergerak sendiri di luar kendali. Apa itu? Bahayakah?

Sindrom Tourette adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan tics, yaitu gerakan atau vokalisasi berulang, tiba-tiba, dan tidak disengaja. Tics biasanya muncul pada masa kanak-kanak, sekitar usia 5 hingga 10 tahun, dan dapat bervariasi dari ringan hingga parah.

Tics motorik meliputi kedipan mata, mengangkat bahu, atau gerakan wajah. Sedangkan tics vokal bisa berupa batuk, mendengus, atau mengulang kata-kata tertentu.

Tics mirip dengan cegukan yang dialami tubuh, terkadang ada beberapa orang yang dapat menghentikan tics untuk sementara waktu, namun pada akhirnya hal tersebut sulit dilakukan.

Bacaan Lainnya

Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Journal of Child and Adolescent Psychopharmacology, sekitar 1 dari 100 anak memiliki gejala terkait Tourette Syndrom, meskipun tidak semuanya terdiagnosis secara resmi.

Penyebab pasti Tourette Syndrom masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara faktor genetik dan ketidakseimbangan neurotransmiter seperti dopamin dan serotonin di otak.

Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya hubungan dengan genetika, karena Tourette Syndrom sering ditemukan dalam keluarga dan adanya faktor keturunan.

Tourette Syndrom juga berkaitan dengan ketidakseimbangan kimia otak, khususnya terkait neurotransmiter, seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin yang memengaruhi pengendalian gerakan dan perilaku.

Selain itu, faktor lingkungan juga berkaitan, karena infeksi tertentu atau komplikasi saat kehamilan atau kelahiran juga dikaitkan dengan peningkatan risiko Tourette Syndrom.

Fakta penting mengenai Tourette Syndrom adalah penyakit ini tidak disebabkan stress atau gangguan mental, melainkan karena gangguan saraf. Namun, stress dapat menjadi faktor pemicu yang akan memperburuk gejala.

Pos terkait