Pada tahun 1947 didaulat menjadi direktur Institute of Advanced Study di Princeton, New Jersey. Namun, di masa-masa itu dia mendapat banyak musuh—baik dari unsur Pemerintah AS, politisi, maupun sesama ilmuan—karena giat mengampanyekan pengendalian energi atom internasional dan menentang pembuatan bom hidrogen.
Dia nekat menyampaikan pandangannya itu langsung kepada Presiden AS kala itu, Harry S. Truman, yang menemuinya di White House. Namun, pandangannya malah membuat Sang Presiden ‘tersinggung’ sehingga “tidak mau lagi melihat muka si cengeng Oppenheimer”.
Hingga akhirnya, pada 1954 Atomic Energy Commission menyatakannya sebagai “orang yang harus diamankan”. Komisi bekerja sama dengan politisi dan media Amerika untuk membuat framing negatif terhadap Oppenheimer—bahkan menuduhnya beraliansi dengan kekuatan komunis Rusia.
Kesetiannya terhadap negara dipertanyakan. Kredibilitasnya dihancurkan. Hingga akhirnya dia diajukan ke hadapan sidang pemeriksaan untuk pejabat tinggi AS, yang mengakibatkan jabatannya sebagai penasihat pemerintah di bidang keamanan dilepas. Banyak ilmuwan yang merasa puas pada tindakan yang timbul pada saat histeria nasional yang dipimpin senator Joseph Raymond McCarthy itu.
Namun, untungnya, ketika itu seorang senator muda yang rupanya punya pengaruh kuat memberikan dukungan penuh terhadap Oppenheimer. Namanya John Fritzgerald Kennedy—yang di kemudian hari berhasl menjadi Presiden Amerika, namun terbunuh tak lama setelah menjabat.
Pada 1963, Komisi Energi Atom menyadari tindakannya yang tidak adil kepada Oppenheimer, dan mengusulkan agar dia menerima Penghargaan Enrico Fermi. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden Lyndon Baines Johnson—pengganti Kennedy yang tewas ditembak.
Kisah Oppenheimer memberikan gambaran fakta yang berlangsung dalam kehidupan manusia di muka bumi ini: bahwa segala hal apa pun—termasuk ilmu pengetahuan yang secara idealis seharusnya ‘bebas nilai’—harus patuh pada kekuasaan politik.





