Lebih dari Sekadar Diplomasi: Menguak Jejak 1.000 Tahun Persahabatan Nusantara dan Persia di Tengah Krisis Iran

Hubungan antara Iran dan Indonesia berakar bada ribuan tahun yang lalu.- Ilustrasi AI Generate
Prabowo siap ke Teheran memediasi krisis usai Iran menutup Selat Hormuz, meneruskan 1.000 tahun persahabatan Nusantara-Persia.

​Ketegangan Timur Tengah memuncak usai Iran menutup Selat Hormuz merespons serangan AS dan Israel. Menghadapi krisis ini, Presiden Prabowo Subianto bersedia terbang ke Teheran untuk memediasi.

Inisiatif ini bukan sekadar manuver politik, melainkan cerminan dari akar persahabatan 1.000 tahun antara Nusantara dan Persia yang mewarnai budaya dan bahasa kita hingga hari ini.

​Ketegangan Global dan Tawaran Mediasi Indonesia

Situasi geopolitik dunia kembali memanas. Israel dan Amerika Serikat baru saja melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Rentetan aksi militer ini langsung memicu serangan balasan dan mendorong Iran mengambil langkah drastis: menutup Selat Hormuz, urat nadi perdagangan energi global.

Bacaan Lainnya

​Di tengah krisis yang berpotensi meluas ini, pemerintah Indonesia mengambil sikap proaktif. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk menengahi konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Bahkan, Presiden Prabowo bersedia bertolak langsung ke Teheran jika seluruh pihak menyetujuinya guna memfasilitasi dialog dan mengembalikan stabilitas keamanan.

​Jejak Diplomatik Resmi yang Panjang

Langkah berani Indonesia menengahi konflik ini memiliki landasan yang kuat. Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran secara resmi telah bersemi sejak tahun 1950. Iran tercatat sebagai salah satu negara dengan hubungan bilateral terlama bagi Indonesia.

​Arsip Kemlu RI mencatat bahwa intensitas komunikasi tingkat tinggi antara kedua negara berjalan sangat progresif. Sejak 2006, para kepala negara dan menteri rutin saling berkunjung. Kedua negara juga aktif berkolaborasi di berbagai forum internasional bergengsi seperti PBB, OKI, D-8, dan BRICS, memperkuat kerja sama di bidang ekonomi, energi, hingga riset dan teknologi.

​Akar Hubungan 1.000 Tahun Nusantara dan Persia

Menariknya, fondasi persahabatan ini membentang jauh melampaui era modern. Interaksi antara kedua wilayah sudah terjalin sejak ribuan tahun lalu, tepatnya ketika Indonesia masih bernama Nusantara dan Iran dikenal sebagai Persia.

​Para pedagang muslim asal Iran, yang dahulu masyarakat kenal sebagai orang Po-ssu, sudah meramaikan bandar-bandar pesisir Selat Malaka hingga Laut China Selatan sejak abad ke-7 Masehi. Kepala Pusat dan Tradisi Lisan (PR-MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sastri Sunarti, menegaskan kuatnya ikatan historis ini.

​”Ketika kita berbicara tentang hubungan, (ini) 1.000 tahun lamanya. Bahkan pada masa kerajaan Sriwijaya dan dinasti yang berkuasa pada masa itu, yaitu dinasti Sasanid,” jelas Sastri.

​Jejak Persia dalam Sastra, Seni, dan Bahasa Nusantara

Intensitas interaksi Nusantara dan Persia meninggalkan warisan peradaban yang masih hidup hingga hari ini. Karya sastra Persia sangat memengaruhi perkembangan kesusastraan lokal. Kita bisa melihatnya dari Kitab Menak beraksara Jawa yang mengadaptasi kisah Persia, atau Hikayat Amir Hamzah dalam bahasa Melayu yang kerap masyarakat pertunjukkan lewat wayang golek dan wayang kulit.

​Terkait hal ini, mendiang sejarawan Agus Sunyoto memberikan catatan penting mengenai betapa mengakarnya pengaruh Persia dalam proses Islamisasi di Nusantara. Pengaruh tersebut mengalir deras tidak hanya melalui sastra, tetapi juga memodifikasi bahasa keseharian masyarakat Indonesia.

Tercatat lebih dari 283 kosakata Persia terserap ke dalam bahasa Melayu dan Indonesia tanpa mengalami perubahan mendasar.

​Ratusan kata yang kita gunakan sehari-hari, seperti istana, bandar, bedebah, biadab, gandum, lasykar, nakhoda, saudagar, pasar, pahlawan, hingga kanduri (kenduri), merupakan kepingan warisan dari interaksi masa lampau tersebut. Lebih jauh lagi, Agus Sunyoto menyoroti bahwa pengaruh Persia sangat sentral dalam sistem pendidikan Islam awal di Nusantara, khususnya terkait cara membaca Al-Qur’an.

​”Istilah jabar untuk fatkhah, jer (zher) untuk kasrah, dan pes (fyes) untuk dhammah,” tulis Agus Sunyoto dalam bukunya, Atlas Wali Songo.

​Jejak panjang peradaban Persia yang meresap ke dalam bahasa, sastra, seni, hingga sistem pendidikan Al-Qur’an di Nusantara membuktikan bahwa kedekatan Indonesia dan Iran memiliki dimensi yang amat dalam. Dengan ikatan historis dan kultural yang telah teruji melintasi milenium, langkah Presiden Prabowo memediasi pusaran konflik di Timur Tengah tidak sekadar bertumpu pada kepentingan geopolitik sesaat, melainkan berdiri di atas pijakan moral dan sejarah persaudaraan yang sangat kokoh.***

_________
​Daftar Pustaka
    • ​Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (Arsip). Sejarah Hubungan Bilateral Indonesia dan Iran.
    • ​Iqbal, Muhammad Zafar. Pengaruh Persia Terhadap Kebudayaan Indonesia.
    • Sunarti, Sastri. (Pernyataan/Wawancara). Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR-MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
    • Sunyoto, Agus. (2010). Pengaruh Persia Pada Sastra dan Seni Islam Nusantara. Jurnal Al-Qurba 1 (1): 129-139.
    • Sunyoto, Agus. Atlas Wali Songo. Pustaka IIMaN.

Pos terkait