Dina Y. Sulaeman menyebut tudingan Iran lalai menjaga pemimpin sebagai generalisasi.
Pengamat Timur Tengah Dina Y Sulaeman menilai narasi bahwa Iran “kecolongan” dalam menjaga pemimpinnya sebagai penyederhanaan yang keliru.
Pandangan itu ia sampaikan melalui akun media sosial X, merespons pertanyaan publik terkait gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan militer.
Dina mengaku mendapat pertanyaan serupa saat tampil di televisi. Ia diminta menanggapi pernyataan narasumber lain yang menyebut Iran gagal menjaga keamanan pemimpinnya.
“Bukankah seharusnya pemimpin dengan level setinggi itu penjagaan keamanannya sangat ketat?” tulis Dina mengutip pertanyaan yang ia terima.
Menurut Dina, sebelum menjawab, ia telah menyimak keterangan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani.
Larijani, kata Dina, menyatakan bahwa Khamenei tidak bersedia bersembunyi di bunker selama rakyatnya tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berlindung.

Serangan Disebut Penuh Kejutan
Dina menjelaskan, serangan terjadi saat proses negosiasi masih berlangsung. Ia menilai faktor kejutan menjadi salah satu variabel penting.
Ia juga menyinggung pernyataan Menteri Luar Negeri Oman yang mengungkap Iran bersedia menyimpan nol cadangan uranium yang diperkaya.
“Dalam waktu singkat, meski Pemimpin Tertinggi gugur, Iran mampu memberikan serangan balasan,” tulis Dina.
Ia mencatat, serangan terhadap kediaman Khamenei terjadi pukul 08.30 waktu Iran, sementara serangan balasan dimulai pukul 11.00 waktu setempat.
Dina menolak kesimpulan bahwa kegagalan mencegat serangan otomatis berarti lemah.
“Dalam perang modern, tidak ada sistem pertahanan udara yang 100 persen sempurna,” tulisnya.
Ia mencontohkan sejumlah peristiwa global, termasuk serangan 11 September di Amerika Serikat serta kebobolan roket di Israel meski memiliki sistem pertahanan Iron Dome.





