Pengamat Timteng: Narasi ‘Iran Kecolongan’ Terlalu Sederhana

Sebuah spanduk bergambar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, terlihat dalam acara doa dan penghormatan pada 1 Maret 2026 di Teheran, Iran. Khamenei dikonfirmasi tewas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. — Majid Saeedi/Getty Images.

Menurut Dina, kegagalan intersep bisa dipicu serangan multi-vektor, faktor kejutan, infiltrasi intelijen, atau celah teknis.

“Menyimpulkan ‘lemah’ atau ‘kecolongan’ dari satu kegagalan adalah falasi generalisasi yang terburu-buru,” tegasnya.

Soal Dugaan Kebocoran Intelijen

Dina juga menanggapi anggapan bahwa tewasnya Khamenei terjadi akibat kebocoran intelijen dan menandakan rezim tidak solid.

Bacaan Lainnya

Ia menyebut semua negara mengalami infiltrasi intelijen, termasuk operasi CIA di Rusia maupun aktivitas Mossad di berbagai negara.

“Intel Rusia maupun China juga menyusup ke Barat. Dan intel-intel Iran juga ada di Teluk,” tulisnya.

Ia menambahkan, hingga kini belum ada kepastian apakah serangan dilakukan melalui jet tempur yang memasuki wilayah Iran atau rudal yang ditembakkan dari luar perbatasan.

Menurut Dina, rudal yang ditembakkan dari jarak dekat, seperti dari Suriah, Bahrain, atau Irak, memang sulit dicegat karena sudah dalam fase aktif.

Ia juga menyinggung luas wilayah Iran serta keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di sekeliling kawasan yang membuat potensi arah serangan beragam.

Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa rudal Iran yang menuju Tel Aviv masih bisa dicegat di wilayah negara lain saat masih dalam fase meluncur.

Di akhir pernyataannya, Dina menegaskan bahwa agresi terhadap negara berdaulat melanggar Piagam PBB Pasal 2, dan negara yang diserang berhak membela diri sesuai Pasal 51.

Ia mengingatkan agar publik tidak menyalahkan korban, melainkan tetap berfokus pada pihak yang melakukan agresi.***

Pos terkait