Akar kuat semacam itu mengalami abstraksi kuat, di mana akhirnya interaksi apa pun antara Indonesia dan Israel hanya punya satu tujuan: normalisasi.
Klarifikasi dan justifikasi terkait kunjungan aktivis NU ke Israel ini barangkali tidak akan membuahkan hasil apa pun, alih-alih mengubah kekuatan yang terkandung dalam proyek normalisasi Indonesia-Israel.
Publik bisa jadi malah makin percaya bahwa PBNU adalah kepanjangan tangan proyek normalisasi Indonesia-Israel.
Alhasil, ‘kemesraan’ PBNU dan Israel di tengah kecamuk perang di Palestina lebih bernuansa politis dari pada kemanusiaan. Perdamaian dunia dan harmoni umat lintas-iman adalah bentuk-bentuk wacana kekuasaan.
‘Kemesraan’ PBNU dan Israel hanya akan memberikan kekuatan moril bagi Zionisme, ketika mereka tidak mendapatkan dukungan apa pun di forum PBB.*





