Kunjungan Aktivis Muda NU ke Israel Bisa Jadi Meneruskan Jalan yang Telah Dibuka oleh ‘Golongan Tua’

Gus Yahya menemui Benjamin Netanyahu pada 2018 (kiri), dan lima aktivis muda NU menemui Presiden Isaac Herzog (kanan). FOTO: Istimewa

Bisa jadi juga bahwa kedatangan aktivis-aktivis muda NU ke Israel merupakan kelanjutan dari Religion of Twenty (R20) dan Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) yang digawangi oleh PBNU.

Sebagaimana diketahui, pada bulan November 2022, PBNU terkesan aktif menego pemerintahan Jokowi untuk membahas segala persiapan R20 di Bali.

Perwakilan Israel memang tidak hadir di Bali. Namun, R20 di Bali tidak lahir dari ruang kosong. Sebelumnya, pada 14-17 Januari 2020, PBNU yang diwakili oleh Katib Aam Gus Yahya telah berkomunikasi dengan Israel di Vatikan. Gus Yahya juga secara terbuka melakukan kunjungan ke Israel, Vatikan, menyelenggarakan R20, dan puncaknya mendelegasikan anak-anak muda NU.

Bacaan Lainnya

PBNU boleh berkilah bahwa kedatangan mereka ke Israel tidak dalam rangka mengkhianati perjuangan anak-anak Palestina, relawan, dan simpatisan. Namun, proyek Benjamin Netanyahu untuk melakukan normalisasi dengan Indonesia sejak 2016 tidak bisa ditutup-tutupi, baik oleh Abrahamic Faiths Initiative, R20, dan AIMEP.

Fenomena indikasi relasi Gus Yahya—yang pada akhirnya merepresentasikan PBNU sebagai ketua umum—dengan Netanyahu ini barangkali merupakan salah satu bentuk relasi dalam konteks kekuasaan, sebagaimana yang disebut oleh John Gaventa (2006) sebagai “Power Cube”.

Gaventa menyebut bahwa kekuasaan memiliki tiga unsur: bentuk (form), ruang (space) dan tingkatan (level). Bentuk adalah cara-cara kekuasaan manifes dengan tiga ciri utamanya: terlihat, tersembunyi, dan tidak terlihat.

Proyek normalisasi dari Benjamin Netanyahu bisa jadi merupakan manifes dalam bentuk tersembunyi. Fenomena yang terlihat kasatmata adalah proyek harmonisasi penganut lintas-agama, khususnya Abrahamik—Islam, Kristen, Yahudi.

Namun, di balik fenomena kasatmata ini terindikasi ada tujuan lain yang lebih besar, seperti fenomena puncak gunung es, dan satu-satunya kemungkinan yang kuat dan memiliki jejak adalah proyek normalisasi Indonesia-Israel.

Bagi John Gaventa, bentuk-bentuk kekuasaan tidak mandiri, melainkan berhubungan secara interaktif satu sama lain (interrelation). Dalam konteks ini, barangkali ada benarnya dugaan publik bahwa kedatangan aktivis-aktivis muda NU belum lama ini ke Israel tidak berdiri sendiri. Barangkali memang jalan mereka sudah ‘dibuka’ oleh kaum tua. Dan jika ditarik lebih jauh, memiliki akar yang kuat pada proyek normalisasi Indonesia-Israel pada tahun 2016.

Pos terkait