Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan es secara langsung dalam waktu yang terlalu lama dapat menimbulkan iritasi hingga cedera kulit (cold burn). Oleh karena itu, kompres dingin hanya dapat dimanfaatkan sebagai pertolongan awal untuk membantu menenangkan diri, bukan sebagai pengobatan utama.
“Efektivitas terapi dingin dalam mengatasi kecemasan masih terbatas. Sebaliknya, berbagai teknik yang telah didukung bukti ilmiah, seperti latihan pernapasan, mindfulness, relaksasi, dan grounding, terbukti mampu membantu menurunkan gejala kecemasan,” ucapnya.
Bahkan, ia melanjutkan, cognitive behavioral therapy (CBT) menjadi salah satu pendekatan psikoterapi yang paling efektif dalam menangani gangguan kecemasan.
Untuk menjaga kesehatan mental sehari-hari, Riati menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berolahraga, tidur yang cukup, mengurangi konsumsi kafein, serta membatasi paparan informasi yang dapat memicu kecemasan. Kebiasaan tersebut sebaiknya dipadukan dengan latihan pernapasan, mindfulness, atau teknik relaksasi agar pengelolaan stres menjadi lebih optimal.
“Apabila kecemasan menetap selama beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Penanganan yang tepat sejak dini akan memberikan hasil yang lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan apabila diperlukan,” tutupnya. ***





