Komandan Kunci Penutup Selat Hormuz Gugur, IRGC Tegaskan Perlawanan Berlanjut

Laksamana Muda Alireza Tangsiri. — IRGC
Laksamana Muda Alireza Tangsiri gugur akibat luka dalam serangan AS-Israel. IRGC menyatakan “setiap pejuang adalah Tangsiri” dan bersumpah melanjutkan perlawanan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengonfirmasi bahwa Laksamana Muda Alireza Tangsiri, Komandan Angkatan Laut IRGC, gugur akibat luka parah yang dideritanya dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pekan lalu.

Konfirmasi ini disampaikan IRGC pada Senin (30/3/2026)—mengakhiri spekulasi yang berkembang sejak Israel pertama kali mengklaim keberhasilan operasi penargetan terhadap komandan senior tersebut pada Kamis (26/3/2026).

Tangsiri dikenal sebagai arsitek utama di balik kebijakan Iran menutup Selat Hormuz—jalur perairan yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia—sejak perang meletus pada 28 Februari 2026. Kantor berita Israel, The Times of Israel, menyebutnya sebagai “tokoh sentral yang bertanggung jawab langsung atas blokade selat.”

Pernyataan Duka dan Sumpah Perlawanan

Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui media lokal, IRGC menyebut Tangsiri sebagai “pejuang di jalan Allah” dan “pahlawan besar dalam Pertahanan Suci” yang telah mengabdi selama hampir setengah abad.

“Laksamana Syahid Alireza Tangsiri, yang menjadi sasaran musuh yang menyerang saat mengorganisasi dan memperkuat kekuatan serta memperkuat perisai pertahanan pulau-pulau dan pesisir, gugur karena luka parah yang dideritanya,” demikian pernyataan IRGC.

IRGC menegaskan bahwa gugurnya komandan senior tidak akan melemahkan perlawanan Iran. Mereka menyatakan bahwa “setiap pejuang adalah seorang Tangsiri” dan menantang akan melihat “keajaiban” yang akan dihasilkan para pejuang IRGC dalam beberapa hari ke depan.

Kronologi Serangan dan Klaim Israel

Israel pertama kali mengumumkan keberhasilan operasi ini pada Kamis (26/3/2026). Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pernyataan video menyatakan bahwa Tangsiri “memiliki banyak darah di tangannya” dan merupakan orang yang “memimpin penutupan Selat Hormuz.”

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut operasi yang dilakukan di Bandar Abbas itu sebagai “ekspresi bantuan” kepada Amerika Serikat dalam upaya membuka kembali jalur pelayaran internasional tersebut.

Operasi tersebut tidak hanya menewaskan Tangsiri, tetapi juga sejumlah komandan senior lainnya, termasuk Kepala Direktorat Intelijen Angkatan Laut IRGC, Behnam Rezaei.

Eskalasi di Tengah Diplomasi Jalan Buntu

Kepergian Tangsiri terjadi di tengah eskalasi konflik yang semakin meluas. Dalam 24 jam terakhir, Kuwait melaporkan satu pekerja India tewas dan pembangkit listrik serta desalinasi rusak akibat serangan Iran. Arab Saudi mengklaim berhasil menembak jatuh lima drone Iran di wilayah timurnya.

Sementara itu, upaya diplomasi yang digagas Pakistan bersama Turki, Mesir, dan Arab Saudi di Islamabad dilaporkan menemui jalan buntu. Sumber Iran menyatakan Teheran tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan operasi darat untuk mengambil alih infrastruktur minyak Iran. Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump menyebut opsi “mengambil alih minyak” Iran, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg—pusat ekspor minyak mentah Iran.

Tokoh Garis Keras Dua Kali Disanksi AS

Laksamana Tangsiri menjabat sebagai Komandan Angkatan Laut IRGC sejak 2018. Ia dikenal sebagai tokoh garis keras yang secara terbuka menentang kehadiran Amerika Serikat di kawasan Teluk.

AS telah menjatuhkan sanksi terhadap Tangsiri dua kali—pada 2019 dan 2023—terkait perannya dalam pengembangan rudal jelajah dan drone bersenjata yang digunakan untuk mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Dalam sebuah pernyataan beberapa waktu lalu, ia menyatakan bahwa “tidak ada kapal yang terkait dengan agresor terhadap Iran yang memiliki hak untuk melintasi selat.”

Kematiannya menjadi salah satu pukulan terbesar bagi struktur komando IRGC sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026—saat serangan awal AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior lainnya. ***

Pos terkait