Kim Jong Un menegaskan status nuklir Korea Utara tidak dapat diganggu gugat—usai melihat eskalasi perang Amerika Serikat melawan Iran.
Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, menyatakan bahwa konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pembenaran kuat bagi negaranya untuk tetap mempertahankan senjata nuklir.
Dalam pidato di hadapan Majelis Tertinggi Rakyat pada Selasa (24/3/2026), Kim menegaskan bahwa status Pyongyang sebagai negara nuklir kini bersifat permanen dan tidak dapat dibalikkan.
Bagi kepemimpinan Pyongyang, nasib Iran memperkuat keyakinan lama bahwa negara tanpa senjata nuklir akan selalu terpapar oleh kekuatan militer Amerika Serikat.
Kim menuduh Washington terus melakukan tindakan agresi yang disponsori negara terhadap pihak-pihak yang tidak memiliki penangkal militer yang memadai.
Syarat Baru Diplomasi dengan Washington
Pernyataan keras ini muncul tepat saat Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal untuk membuka kembali jalur diplomasi yang sempat runtuh pada 2019. Namun, Kim memberikan syarat yang jauh lebih berat bagi Washington. Ia hanya bersedia berinteraksi jika Amerika Serikat mau meninggalkan kebijakan permusuhan dan mengakui Korea Utara sebagai negara nuklir seutuhnya.
“Situasi saat ini dengan jelas membuktikan bahwa keputusan kita menolak rayuan manis untuk menyerahkan senjata nuklir adalah langkah yang tepat,” tegas Kim Jong Un dalam pidato resminya yang dipublikasikan pada Selasa (24/3/2026).
Penegasan ini sekaligus menutup pintu bagi agenda denuklirisasi yang selama ini diusung dunia internasional. Korea Utara kini lebih memilih memosisikan nuklir sebagai tameng kedaulatan yang mutlak.
Aliansi Moskow dan Arsenal Lintas Generasi
Selain mempertegas status nuklir, Pyongyang juga semakin merapatkan barisan dengan Moskow.
Korea Utara dilaporkan memasok ribuan pasukan serta amunisi untuk mendukung perang Rusia di Ukraina, sebagai imbalan atas pasokan pangan, bahan bakar, dan teknologi militer sensitif. Kerja sama ini dipandang memperkuat posisi tawar Kim di kancah geopolitik global.
Kehadiran putri remaja Kim Jong Un, Kim Ju Ae, dalam berbagai agenda militer juga menjadi sinyal kuat bahwa program nuklir ini bersifat lintas generasi. Kim berjanji akan terus memperluas arsenal nuklirnya secara masif guna meningkatkan jumlah senjata dan sarana penyebarannya.
Saat ini, Korea Utara diyakini telah merakit puluhan hulu ledak nuklir dengan sistem pengiriman yang diklaim mampu menjangkau seluruh daratan Amerika Serikat.
Dengan kekuatan militer yang terus melebar, Pyongyang menegaskan bahwa nuklir bukan lagi alat tawar-menawar diplomasi, melainkan warisan pertahanan yang akan tetap tegak meski di bawah tekanan sanksi.***





