Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya menutup pintu perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.
“Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus bernegosiasi ketika kami telah bernegosiasi dengan mereka dua kali, dan setiap kalinya mereka menyerang kami di tengah negosiasi,” ujar Araghchi, dalam wawancara dengan NBC News, 5 Maret 2026.
Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata, bahkan dalam konflik sebelumnya. “Pada perang sebelumnya, Israel yang meminta gencatan senjata tanpa syarat setelah 12 hari,” katanya.
Dua Putaran Negosiasi yang Berakhir dengan Serangan
Penolakan ini didasari dua kali pengalaman negosiasi yang berakhir dengan serangan militer AS-Israel. Putaran pertama berlangsung pada April-Mei 2025, dipimpin utusan khusus AS Steve Witkoff melalui mediasi Oman.
Namun, pada 13-22 Juni 2025, Israel dan AS melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas nuklir Natanz dan Fordow. Presiden AS Donald Trump saat itu menyatakan fasilitas tersebut “hancur total”. Konflik tersebut dikenal sebagai Perang 12 Hari.
Iran kembali ke meja perundingan pada Februari 2026. Menteri Luar Negeri Oman Badr Al Busaidi menyebut telah terjadi “kemajuan signifikan” dan mengumumkan Iran menyetujui komitmen untuk “tidak akan pernah memiliki material nuklir yang dapat menciptakan bom”.
Serangan 28 Februari 2026 Tewaskan Khamenei
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel kembali melancarkan serangan gabungan. Presiden Trump menyebut operasi itu sebagai respons atas “kurangnya kemajuan” dalam perundingan.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah petinggi militer. Pascaserangan, Majelis Pakar Iran melantik Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru.
Kesiapan Iran Hadapi Perang
Menanggapi ancaman invasi darat AS, Araghchi menyatakan Iran siap menghadapi kemungkinan terburuk. “Tidak ada pemenang dalam perang ini. Kemenangan kami adalah mampu melawan tujuan ilegal mereka, dan itulah yang telah kami lakukan sejauh ini,” ujarnya.





