KH. Wahab Chasbullah (3): Ahli Lobi, Inisiator Pembentukan GP Anshor dan Media NU

Muncul dua kubu yang tidak sepaham soal pemilihan nama, yaitu kubu Mbah Wahab dengan kubu Mas Mansyur. Kubu Mbah Wahab mengusulkan nama “Da’watus Syubban”, yang berarti “Panggilan Pemuda”; sementara kubu Mas Mansyur mengusulkan nama “Mardi Santoso”.

Pertemuan itu tidak menghasilkan apa-apa. Hingga kemudian KH. Mas Mansyur memisahkan diri dan masuk Muhammadiyah.

Bacaan Lainnya

Dua tahun setelah pertemuan tersebut, pada 1924 para pemuda pendukung Mbah Wahab membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan atau “Pemuda Tanah Air”. Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Anshor. Sebelum secara resmi menggunakan nama Pemuda Anshor, badan otonom (banom) ini sempat bergonta-ganti nama, mulai dari Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama “Anshor” sendiri merupakan saran Mbah Wahab. Nama tersebut diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad Saw. kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah.

Pegerakan Mbah Wahab terus berlanjut. Selain menggagas Nahdlatul Wathon, ikut berperan aktif mendirikan NU, membentuk gerakan pemuda nahdliyin, dan mengawal fatwa Resolusi Jihad, dia juga aktif menggagas dan merealisasikan media-media masa NU. Pembangunan media ini merupakan representasi dari kebebasan berfikir dalam kalangan umat Islam Indonesia yang giat digalakkan oleh Mbah Wahab.

Dia pernah menjabat sebagai pimpinan redaksi Soeara Nahdlatoel Oelama. Mbah Wahab aktif menulis, bahkan menjadi penyandang dana media tersebut. Dia juga merintis beberapa majalah maupun surat kabar lain, seperti Berita Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, dan Duta Masjarakat.

Upaya Mbah Wahab ini sangat relevan dan strategis untuk mempropagandakan gerakan NU dalam memperjuangkan kemerdekaan. KH. Mahfudz Siddiq dan KH. Wahid Hasyim juga aktif mengembangkan media massa tersebut.—bersambung

Sumber Foto Utama: Buku Pendidikan Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan Ke-NU-an PW LP Ma’arif NU.

(Wijdan | Diolah dari berbagai sumber)

Pos terkait