Dewan juri dan MC resmi dinonaktifkan. Permintaan maaf disampaikan terbuka.
Tapi ada pertanyaan yang lebih besar yang tersisa: bagaimana mungkin sebuah lomba yang dirancang untuk menanamkan semangat konstitusi pada generasi muda, justru mempertontonkan secara langsung bahwa keberanian bersuara bisa dihukum?
Ocha tidak pulang dengan trofi. Tapi ia pulang dengan sesuatu yang mungkin lebih berharga: bukti bahwa ia memahami konstitusi bukan sekadar sebagai hafalan, melainkan sebagai keberanian untuk membelanya — bahkan ketika yang perlu dihadapi adalah orang-orang yang seharusnya menjaganya.***





