Ketika Generasi Muda Jepang “Mengurung Diri”

Jepang yang dikenal sebagai negara maju mengalami masalah yang cukup pelik. Generasi mudanya banyak yang mengurung diri dari pergaulan. Foto dibuat oleh SORA.
Ini kisah nyata tentang generasi muda Jepang yang menghadapi kesepian kronis dalam ‘budaya’ Solokatsu hingga Hikikomori. Kesendirian menjadi epidemi sunyi, yang mematikan sinar anak-anak muda Negeri Matahari Terbit. Mereka kenapa?

_____

Malam itu, lampu-lampu di distrik Shibuya memantul di jendela sebuah apartemen mungil di Tokyo. Di dalamnya, seorang pemuda usia 24 tahun duduk diam di pojok ruangan. Sudah tiga tahun ia tidak keluar rumah. Ibunya, satu-satunya penghuni lain di rumah itu, menyelipkan makanan setiap pagi lewat celah pintu. Sang pemuda hanya menjawab dengan denting sendok di piring kosong, tanda bahwa ia masih hidup.

Ia adalah satu dari jutaan anak muda Jepang yang dikenal sebagai hikikomori—istilah yang dalam bahasa Indonesia berarti “menarik diri”. Ini bukan sekadar kebiasaan menyendiri. Ini adalah fenomena sosial yang kompleks: generasi muda yang menutup diri dari dunia luar, tak bekerja, tak sekolah, dan hampir tak berinteraksi dengan siapa pun, termasuk keluarga.

Bacaan Lainnya

Menurut data Kementerian Kesehatan Jepang 2024, jumlah hikikomori mencapai 1,46 juta jiwa—angka yang meningkat drastis sejak pandemi. Mayoritas berusia antara 15 hingga 39 tahun. Namun yang mengejutkan, lebih dari 20 persen di antaranya kini berusia di atas 50 tahun, mereka yang menjadi hikikomori sejak muda dan tak pernah pulih. Mereka disebut sebagai “hikikomori tua”, bayangan masa depan yang mengintai generasi sunyi hari ini.

Ada fenomena lain yang disebut solokatsu. Ini adalah singkatan dari “solo activity” atau “solo karaoke”. Adalah sebuah tren di Jepang, di mana seseorang secara sadar dan sengaja menikmati aktivitas rekreasi atau hiburan seorang diri, bukan karena tidak punya teman, tapi karena memilih untuk melakukannya.

Apa yang terjadi di balik tirai-tirai apartemen sempit itu? Para sosiolog menunjuk pada kombinasi tekanan sosial, sistem pendidikan yang kompetitif, krisis kepercayaan diri, hingga rapuhnya relasi keluarga. Jepang, meski dikenal disiplin dan teratur, menyimpan ironi: warganya semakin terasing satu sama lain. Di tengah modernitas yang nyaris sempurna, kebutuhan dasar manusia—untuk merasa dilihat, dihargai, dan dicintai—tak terpenuhi.

Yasuko Hasegawa, peneliti di Rikkyo University seperti dilansir akun Youtube CNA Insider, menyebut fenomena ini sebagai “epidemi kesepian.” Ia menulis dalam laporannya, “Anak-anak Jepang tumbuh dalam tuntutan akademik dan harapan keluarga yang tinggi, tapi tak pernah diajarkan bagaimana merasa cukup hanya sebagai manusia.”

Keluarga-keluarga di Jepang kerap bungkam soal perasaan. Seorang ibu tak tahu harus bicara apa saat anaknya mengurung diri. Seorang ayah merasa malu jika anaknya tak bisa mandiri. Mereka akhirnya memilih diam, berharap waktu akan menyembuhkan. Tapi waktu tak menyembuhkan apa-apa.

Yang terjadi justru “kematian dalam kesendirian” atau kodokushi. Setiap tahun, ribuan orang ditemukan membusuk di apartemen mereka, tanpa seorang pun menyadari bahwa mereka telah pergi. Pemerintah pun membentuk “tim pembersih kematian sunyi,” sebuah satuan khusus yang bertugas membersihkan kamar-kamar yang ditinggal pemiliknya begitu saja.

Tentu tak semua kasus berujung tragis. Ada juga yang perlahan pulih berkat komunitas pendamping, terapi, atau pelatihan kerja. Tapi jalan keluar itu tak mudah. Stigma masih tebal. Banyak yang lebih memilih hidup dalam dunia virtual, seperti game online atau avatar sosial, tempat di mana mereka bisa menjadi siapa saja tanpa perlu benar-benar hadir.

“Di dunia maya, tak ada yang menilai apakah kau gagal atau tak punya pekerjaan,” kata Kenji, seorang mantan hikikomori yang kini aktif sebagai konselor daring.

Pemerintah Jepang tengah berupaya menghadapi krisis sunyi ini. Ada hotline psikologis, pelatihan kerja, dan bahkan tunjangan untuk keluarga hikikomori. Tapi sebagian besar masih bersifat tambal sulam. Masalah dasarnya adalah: bagaimana membuat orang muda merasa berharga tanpa harus jadi sempurna?

Di Jepang, negara yang membanggakan ketertiban, ada semacam budaya malu yang membuat orang enggan mengaku rapuh. Tapi kini, justru keberanian untuk bicara tentang kelemahanlah yang menjadi harapan. Sebab sunyi yang tak diucapkan, bisa berubah menjadi dinding tebal yang memisahkan manusia dari hidup itu sendiri.***

Pos terkait