Ketika Gen Z Barat Pilih Jadi ‘Sangat Tionghoa’

Ilustrasi tren chinamaxxing, saat Gen Z Barat melirik budaya Tiongkok di tengah kekecewaan pada sistem negaranya sendiri.

CCTV, stasiun televisi negara Tiongkok, bahkan menyiarkan segmen delapan menit tentang tur IShowSpeed—sesuatu yang hampir mustahil dibayangkan satu dekade lalu. Bagi Beijing, setiap kreator konten asing yang terkagum-kagum pada infrastruktur Tiongkok adalah aset soft power yang jauh lebih efektif daripada iklan resmi mana pun.

Namun tren ini juga memantik kritik dari dalam komunitas diaspora Tionghoa sendiri. Cherie Wong, aktivis Hongkong-Kanada yang pernah bersaksi di hadapan parlemen Kanada soal disinformasi Beijing, memperingatkan bahwa chinamaxxing berisiko menyederhanakan identitas Tionghoa yang kompleks menjadi serangkaian trope yang mudah dikonsumsi. 

“Di 2026, menjadi Tionghoa tiba-tiba dianggap keren,” katanya dalam sebuah video Instagram. “Tapi sebelum orang-orang itu mengklaim sedang ‘dalam fase Tionghoa’, perlu diingat bahwa fase Tionghoa bagi kakek-nenek saya adalah menyaksikan para guru dieksekusi karena dianggap intelektual.”

Bacaan Lainnya
Sampai ke Sini?

Di Indonesia, chinamaxxing belum menjadi percakapan utama—setidaknya belum dalam namanya yang eksplisit. Tapi akarnya sudah akrab. Kebiasaan minum air jahe hangat, pijat refleksi, bubur sebagai makanan pagi yang menenangkan, atau kekaguman pada kereta cepat yang kini juga perlahan hadir di dalam negeri—semua itu bukan asing bagi masyarakat Indonesia, yang memiliki warisan budaya Tionghoa yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari sejak berabad-abad lalu.

Yang menarik justru adalah konteksnya: di Barat, chinamaxxing adalah pemberontakan estetika terhadap kemapanan. Di Indonesia, praktik-praktik serupa selalu ada—hanya tidak pernah perlu diberi nama tren karena tidak pernah benar-benar hilang.

Dalam konteks itulah tren ini menjadi lebih dari sekadar konten viral. Ia adalah pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana soft power bekerja di era algoritma—di mana sebuah video seorang pemuda minum air panas bisa menggeser persepsi geopolitik jutaan orang lebih efektif daripada pidato kenegaraan mana pun.

Dan seperti air panas yang perlahan menghangatkan dari dalam, pengaruhnya berjalan diam-diam, tapi tidak bisa diabaikan.***

Pos terkait