Ketika Gen Z Barat Pilih Jadi ‘Sangat Tionghoa’

Ilustrasi tren chinamaxxing, saat Gen Z Barat melirik budaya Tiongkok di tengah kekecewaan pada sistem negaranya sendiri.

Gelombang berikutnya datang dari peristiwa politik. Ketika pemerintah Amerika Serikat mengancam melarang TikTok pada awal 2025, jutaan pengguna muda AS bermigrasi ke Xiaohongshu—platform asal Tiongkok yang di Barat dikenal sebagai RedNote. 

Dalam waktu singkat, aplikasi itu menduduki posisi teratas di Apple Store AS dengan lebih dari 700.000 pengguna baru. Di sana, mereka menemukan warga Tiongkok biasa yang membagikan tagihan rumah sakit mereka, vlog belanja harian, dan lelucar sehari-hari. Bukan narasi negara. Hanya kehidupan.

Pertemuan tak terduga itu mempercepat segalanya.

Bacaan Lainnya
Estetika atau Kritik Sosial?

Chinamaxxing bekerja di dua level sekaligus. Di permukaan, ia adalah estetika: palet warna netral, rutinitas pagi yang tenang, makanan bergizi, dan gaya hidup yang terasa intentional—terencana dan bermakna. Format videonya mudah ditiru: vlog “sehari dalam hidupku yang sangat Tionghoa”, tutorial gua sha, atau reaksi kagum terhadap sistem transportasi publik Beijing.

Tapi di lapisan yang lebih dalam, para peneliti membaca tren ini sebagai bentuk kekecewaan kolektif. Shaoyu Yuan, akademisi dari Universitas New York yang menekuni soft power Tiongkok, menjelaskan bahwa ketika warga Amerika tidak lagi mempercayai institusi, media, atau kelas politiknya sendiri, mereka menjadi lebih terbuka terhadap titik referensi alternatif. Chinamaxxing, dalam pembacaan ini, bukan tentang Tiongkok—ia tentang Amerika yang sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Yi-Ling Liu, penulis teknologi yang mendalami internet Tiongkok, menyimpulkannya lebih tajam: fascinasi ini berakar dari kecemasan domestik Amerika sendiri. Biaya hidup yang meroket, sistem kesehatan yang terfragmentasi, kekerasan senjata api, dan polarisasi politik yang melelahkan—semua itu membuat sebagian anak muda Barat melirik ke seberang Pasifik dan bertanya-tanya: ada apa di sana yang tidak ada di sini?

Ketika Budaya Jadi Senjata Lunak

Beijing, tentu saja, tidak tinggal diam. Pemerintah Tiongkok dengan cepat membaca momen ini sebagai peluang diplomasi pengaruh. Pada awal 2026, All-China Youth Federation meluncurkan program yang mengundang influencer media sosial Amerika—dengan minimal 300.000 pengikut—untuk mengunjungi Tiongkok selama sepuluh hari, sepenuhnya dibiayai negara, guna menunjukkan “Tiongkok yang sesungguhnya.”

Pos terkait