Pemerintah Israel akhirnya menyetujui kesepakatan penyanderaan pada Sabtu dini hari, 18 Januari 2025, setelah lebih dari tujuh jam perdebatan sengit di kabinet. Kementerian Kehakiman Israel bahkan sudah merilis daftar 735 tahanan yang akan dibebaskan sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata Hamas-Israel.
Zakaria Zubeidi, mantan komandan Brigade Martir Al-Aqsa Fatah di Jenin, termasuk di antara tahanan yang akan dibebaskan. Zubeidi menurut laporan Jerusalem Post, merupakan salah satu pelaku dalam pelarian spektakuler dari Penjara Gilboa pada 2021, ketika enam tahanan berhasil kabur dari fasilitas keamanan tinggi tersebut.
Nama lain yang mencuat adalah Mahmoud Atallah, yang tengah menjalani hukuman seumur hidup ditambah 15 tahun atas pembunuhan seorang wanita Palestina yang dituduh bekerja sama dengan Israel. Atallah juga menghadapi dakwaan atas kasus pemerkosaan seorang penjaga penjara wanita dalam skandal “penjara mucikari.”
Ahmed Barghouti, tangan kanan Marwan Barghouti, juga masuk dalam daftar. Ahmed menjalani 13 hukuman seumur hidup karena memasok senjata untuk Brigade Martir Al-Aqsa, sayap militer Fatah. Ia terlibat dalam sejumlah serangan mematikan, termasuk pemboman di Tel Aviv yang menewaskan tiga orang pada 2002 serta serangan lainnya di Yerusalem yang menyebabkan beberapa korban jiwa.
Dua anggota Hamas, Wael Qassem dan Wisam Abbasi dari kelompok “Selwan,” juga akan dibebaskan. Mereka bertanggung jawab atas serangkaian serangan bom di awal 2000-an, termasuk di Café Moment Yerusalem, Klub Sheffield di Rishon Lezion, dan Kafetaria Frank Sinatra di Universitas Ibrani.
Kementerian Kehakiman Israel menegaskan pembebasan tahanan tahap pertama tidak akan dilakukan sebelum pukul 16.00 waktu setempat pada Ahad, 19 Januari 2025.
Perdebatan Kabinet yang Panjang
Rapat kabinet keamanan yang menentukan persetujuan kesepakatan ini. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menentang keras keputusan tersebut dan mengancam mundur dari pemerintahan.





