Rais Aam dan Ketua Umum PBNU sepakat menggelar muktamar bersama secepatnya.
Dinamika konflik elit Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki fase baru. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyepakati langkah islah dengan agenda utama percepatan muktamar.
Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan Syuriah PBNU bersama para Mustasyar dan kiai sepuh NU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (25/12/2025). Pertemuan tersebut menjadi yang pertama mempertemukan langsung Rais Aam dan Ketua Umum PBNU setelah kisruh internal mencuat ke ruang publik.
Kesepakatan Islah dan Agenda Muktamar
Berdasarkan hasil tabayun di Lirboyo, Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, dengan bimbingan para masyayikh sepuh dan Mustasyar, menyepakati dua poin utama. Pertama, pelaksanaan muktamar bersama yang dinyatakan legitimate dan akan digelar sesegera mungkin.
Kedua, waktu, tempat, serta teknis pelaksanaan muktamar akan diputuskan bersama oleh Ketua Umum dan Rais Aam melalui kepanitiaan yang dibentuk secara kolektif. Sumber Samudrafakta menyebutkan, muktamar tersebut berpeluang dipercepat dan tidak menunggu Desember 2026.

Inisiatif Rais Aam dan Forum Konsultasi
Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Oing Abdul Muid, menegaskan pertemuan itu berlangsung atas permintaan Rais Aam PBNU. Lirboyo, kata dia, hanya diminta menjadi tempat pertemuan.
“Surat yang kami terima menyebut Rais Aam meminta seluruh Mustasyar hadir. Dalam forum ini, beliau akan menjelaskan hasil rapat pleno PBNU. Pertemuan ini disebut sebagai rapat konsultasi Syuriah dengan Mustasyar PBNU,” ujar KH Oing, Kamis (25/12/2025).
Respons Kiai dan Tokoh NU
Sejumlah kiai menilai islah Lirboyo sebagai langkah awal yang krusial. Pengasuh Pondok Pesantren MIS Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH Imam Baihaqi, menekankan pentingnya pengawalan proses berikutnya.





