Petang itu, suasana di halaman Kejaksaan Negeri Magetan terasa berbeda, Kamis (23/4/2026). Langkah kaki yang biasanya mantap, kini goyah. Ketua DPRD Magetan, Suratno—yang akrab disapa Kang Ratno—tak kuasa menahan tangis saat dikawal dua Jaksa menuju mobil tahanan.
Rompi merah muda melekat di tubuhnya, menggantikan jas kehormatan yang dulu menjadi simbol kekuasaan. Tangannya terborgol. Wajahnya tertunduk, sesekali berusaha menutupi sorotan kamera. Air mata jatuh—bukan sekadar ekspresi sesaat, tapi seperti penanda sebuah babak yang runtuh. Seketika videonya yang diunggah akun-akun Instagram dari Magetan, viral ke mana-mana.
Baru satu setengah tahun, Suratno duduk di kursi Ketua DPRD Magetan, setelah kemenangan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengejutkan dalam Pemilu 2024. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua DPC, PKB meraih 8 kursi dan menyalip dominasi lama PDI Perjuangan. Bahkan, anaknya ikut melenggang ke kursi legislatif. Sebuah fase yang oleh banyak orang disebut sebagai puncak karier politiknya.
Lihat postingan ini di Instagram
Namun kini, semua seperti berbalik arah. Kejaksaan Negeri Magetan menetapkan Suratno sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana hibah pokok pikiran (pokir) DPRD Magetan tahun anggaran 2020–2024, dengan nilai mencapai Rp242,9 miliar. Ia tak sendiri—lima nama lain ikut terseret, mulai dari anggota dewan hingga tenaga pendamping.
Penyidik menemukan dugaan penyimpangan yang disebut berlangsung sistematis. Mekanisme hibah yang semestinya menjadi jembatan aspirasi rakyat, justru diduga dikuasai sejak tahap perencanaan hingga pencairan. Kelompok masyarakat disebut hanya menjadi pelengkap administratif—proposal disusun bukan oleh mereka, laporan pun tak selalu mencerminkan kenyataan. Ada pula dugaan pemotongan dana, pengadaan fiktif, hingga aliran untuk kepentingan pribadi.
Di tengah semua itu, tangisan Kang Ratno menjadi gambaran paling manusiawi dari sebuah peristiwa hukum yang keras. Ia bukan lagi sekadar pejabat publik, tapi seseorang yang sedang menghadapi konsekuensi besar dari perjalanan panjangnya.
Ironinya terasa jelas. Dulu, Kang Ratno berbicara tentang amanah rakyat, tentang kepercayaan yang harus dijaga. Kini, Kang Ratno seperti berdiri pada titik yang berlawanan—di mana kepercayaan itu sedang diuji, bahkan dipertanyakan. Tangisan di ujung jabatan itu bukan hanya milik Kang Ratno. Ia seperti gema yang lebih luas—tentang kekuasaan, tentang godaan, dan tentang betapa tipisnya batas antara kehormatan dan kejatuhan.
Kasus ini masih berjalan. Proses hukum akan menentukan arah akhir cerita Kang Ratno. Namun di kota kecil seperti Magetan, petang itu akan terus lama diingat—sebagai momen ketika seorang ketua dewan menangis, tepat di ujung jabatannya.***





