Sebelum ada laboratorium, ada acaraki. Dan ternyata, mereka tidak pernah salah.
Sebelum ada laboratorium, ada acaraki. Profesi peracik jamu kerajaan ini tercatat dalam Prasasti Madhawapura era Majapahit—setara pembuat pakaian (abhasana) dan pembuat kuali (angawari). Bukan pekerjaan pinggiran. Ini sistem kesehatan resmi negara.
Bukti visualnya terpahat di relief Karmawibhangga Candi Borobudur, abad ke-8. Dan sains modern kini membuktikan: para acaraki itu tidak keliru.
Lompatan paling mengejutkan terjadi di laboratorium. Nanopartikel kurkumin dari kunyit terbukti mampu menembus blood-brain barrier—tembok biologis yang selama ini jadi hambatan utama terapi penyakit neurodegeneratif. Potensinya mencakup Alzheimer, Parkinson, hingga sklerosis ganda.
Di IPB University, Prof. C. Hanny Wijaya menghabiskan 14 tahun untuk membuktikan kumis kucing (Orthosiphon aristatus) bukan sekadar tanaman pekarangan. Hasilnya: Glucodiab Drink—minuman fungsional berbasis kumis kucing, temulawak, dan jahe gajah—dengan aktivitas antihiperglikemik terukur 65,83 persen, didukung BPOM, dan kini dipasarkan secara nasional.
Puncaknya: pada 6 Desember 2023, UNESCO resmi menginskripsi Budaya Sehat Jamu ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan—warisan ke-13 Indonesia yang diakui dunia.
Pengakuan itu bukan piala untuk dipajang. Ini mandat untuk terus meneliti, mengembangkan, dan menghidupkan pengetahuan yang sudah ada jauh sebelum kata “farmasi” dikenal.
Selengkapnya baca di sini.





