Iran memblokade Hormuz, AS memblokade Iran. Keduanya menjadikan pembukaan blokade lawan sebagai syarat damai. Di tengah deadlock itu, 20 persen pasokan minyak dunia tergadai.
Selat Hormuz tidak pernah selebar ini rasanya. Dua armada saling menghadap di jalur laut sepanjang 54 kilometer, dan sekitar 2.000 kapal terjebak di dalam Teluk Persia, tak bisa bergerak.
Di satu sisi, Garda Revolusi Iran atau IRGC berjaga dengan armada speedboat bersenjata, menyatakan setiap kapal yang lewat tanpa izin adalah “musuh.” Di sisi lain, setidaknya 12 kapal perang AL Amerika Serikat — termasuk kapal induk dan kapal perusak — memberlakukan blokade atas pelabuhan-pelabuhan Iran.
Situasi ini bukan sekadar eskalasi militer. Ini adalah kebuntuan struktural: Iran tidak akan membuka selat sebelum AS mencabut blokade. AS tidak akan mencabut blokade sebelum Iran membuka selat dan menyerahkan program nuklirnya.
Lingkaran setan yang menyandera hajat hidup miliaran orang yang sama sekali tidak ikut berperang.

Anatomi Kebuntuan
Jamak diketahui bahwa perang ini dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi ke Iran — termasuk mengeksekusi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei — di tengah putaran ketiga negosiasi nuklir, yang menurut catatan Arms Control Association justru masih menunjukkan fleksibilitas dari pihak Iran.
Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz pada 2 Maret. Dalam hitungan hari, sinyal AIS — sistem pelacakan otomatis kapal — di selat itu padam total.
Setelah lebih dari lima pekan pertempuran, kedua pihak sepakat pada gencatan senjata dua minggu pada 7–8 April, yang ditengahi Pakistan. Tapi “gencatan senjata” di sini artinya sempit: pertempuran mereda, blokade tidak. AS tetap memblokade pelabuhan Iran. Iran tetap mengendalikan selat.





