Dua Blokade, Satu Selat, dan Dunia yang Disandera

Ilustrasi dua blokade di satu selat: kapal sipil terjebak di tengah konflik AS–Iran, sementara pasokan energi dunia ikut tersandera dalam kebuntuan yang belum menemukan jalan keluar. AI GENERATE
Iran memblokade Hormuz, AS memblokade Iran. Keduanya menjadikan pembukaan blokade lawan sebagai syarat damai. Di tengah deadlock itu, 20 persen pasokan minyak dunia tergadai.

Selat Hormuz tidak pernah selebar ini rasanya. Dua armada saling menghadap di jalur laut sepanjang 54 kilometer, dan sekitar 2.000 kapal terjebak di dalam Teluk Persia, tak bisa bergerak.

Di satu sisi, Garda Revolusi Iran atau IRGC berjaga dengan armada speedboat bersenjata, menyatakan setiap kapal yang lewat tanpa izin adalah “musuh.” Di sisi lain, setidaknya 12 kapal perang AL Amerika Serikat — termasuk kapal induk dan kapal perusak — memberlakukan blokade atas pelabuhan-pelabuhan Iran.

Situasi ini bukan sekadar eskalasi militer. Ini adalah kebuntuan struktural: Iran tidak akan membuka selat sebelum AS mencabut blokade. AS tidak akan mencabut blokade sebelum Iran membuka selat dan menyerahkan program nuklirnya. 

Bacaan Lainnya

Lingkaran setan yang menyandera hajat hidup miliaran orang yang sama sekali tidak ikut berperang.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih tersendat jelang pembicaraan gencatan senjata antara Iran vs AS di Pakistan, Jumat (10/4/2026). DOK. PRESS TV
Anatomi Kebuntuan

Jamak diketahui bahwa perang ini dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi ke Iran — termasuk mengeksekusi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei — di tengah putaran ketiga negosiasi nuklir, yang menurut catatan Arms Control Association justru masih menunjukkan fleksibilitas dari pihak Iran.

Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz pada 2 Maret. Dalam hitungan hari, sinyal AIS — sistem pelacakan otomatis kapal — di selat itu padam total.

Setelah lebih dari lima pekan pertempuran, kedua pihak sepakat pada gencatan senjata dua minggu pada 7–8 April, yang ditengahi Pakistan. Tapi “gencatan senjata” di sini artinya sempit: pertempuran mereda, blokade tidak. AS tetap memblokade pelabuhan Iran. Iran tetap mengendalikan selat.

Pada 17 April, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan Selat Hormuz “terbuka penuh.” Harga minyak terjun 11 persen dalam hitungan jam. Euforia itu berumur kurang dari 24 jam.

Keesokan harinya, IRGC menutup kembali selat — mengutip “pelanggaran kepercayaan berulang” karena blokade AL AS tidak dicabut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf berkata tegas: “Mustahil bagi orang lain melewati Selat Hormuz sementara kami tidak bisa.”

Hari ini, 24 April, Iran kembali menyita dua kapal kontainer di selat, hanya beberapa jam setelah Trump memperpanjang gencatan senjata. Perundingan ronde kedua di Islamabad pun masih menggantung.

Senjata Ekonomi yang Berbalik

Di sinilah ironi terbesar konflik ini.

AS dan Iran sama-sama menggunakan ekonomi sebagai senjata. Tapi senjata itu bukan hanya melukai lawan — ia melukai seluruh pihak yang tidak ikut bertarung.

Kepala IEA menyebut situasi ini sebagai “tantangan keamanan energi global terbesar dalam sejarah” — lebih parah dari gabungan krisis energi 1973, 1979, dan 2022. Bukan retorika kosong.

Sebelum perang, sekitar 25 persen perdagangan minyak laut dunia dan 20 persen LNG global melewati selat ini setiap hari. Begitu selat menutup, efeknya bukan bertahap — ia langsung.

Harga minyak Brent menembus USD120 per barel pasca-penutupan, dan QatarEnergy terpaksa mengumumkan force majeure atas seluruh ekspornya. Produksi minyak Kuwait, Irak, Arab Saudi, dan UEA anjlok minimal 10 juta barel per hari pada pertengahan Maret — bukan karena sumur-sumur itu rusak, melainkan karena tidak ada kapal yang bisa mengangkut.

Federal Reserve Bank of Dallas memproyeksikan rata-rata harga WTI mencapai USD98 per barel dan pertumbuhan PDB global terpangkas 2,9 poin persentase secara tahunan jika penutupan selat hanya berlangsung satu kuartal. Jika berlanjut dua kuartal, harga puncak bisa menyentuh USD132. Skenario terburuk yang sudah mulai dipertimbangkan pejabat AS dan analis Wall Street: USD200 per barel.

IEA menyebut ini “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.”

Psywar di Atas Medan Perang

Pertempuran tidak hanya terjadi di laut. Keduanya sedang berperang di arena persepsi — dan keduanya tahu betul bahwa narasi adalah amunisi.

Trump bermain dengan framing ekonomi. Ia memposting di Truth Social: “Iran sedang kolaps finansial! Kehilangan USD500 juta per hari. Militer dan polisi mengeluh tidak dibayar!” Pesan yang ingin disampaikan jelas: Iran sedang sekarat, tinggal tunggu menyerah.

Tapi Teheran membalikkan narasi itu. Ghalibaf, yang kini menjadi wajah negosiasi Iran, berkata kepada publik domestik: “Kami belum menghancurkan musuh — mereka masih punya uang dan senjata — tapi secara strategis, mereka telah dikalahkan di hadapan kami.”

Iran bahkan mengubah penutupan selat menjadi sumber pendapatan: setoran pertama “tol Selat Hormuz” sudah masuk ke rekening Bank Sentral Iran, dengan tarif lebih dari USD1 juta per kapal, bervariasi tergantung muatan dan risiko. Langkah yang secara simbolik sangat kuat — Iran mengubah aksi perang menjadi yurisdiksi.

Di dalam Iran sendiri, klaim Trump bahwa Teheran sudah minta gencatan senjata dibantah keras oleh Kementerian Luar Negeri sebagai “palsu dan tidak berdasar.” Sementara media semi-resmi Tasnim mengkritik Menlu Araghchi yang sempat mengumumkan pembukaan selat — dianggap menciptakan “ambiguitas” yang merugikan posisi Iran.

Ini bukan tanda kekacauan internal. Ini adalah manajemen narasi yang hati-hati: Iran menunjukkan kepada dunia bahwa ia masih punya kendali atas pesan, bukan hanya atas selat.

Kapal-kapal tanker berlayar di kawasan Teluk, di dekat Selat Hormuz, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran pada 11 Maret. – Reuters via Al Jazeera
Asia di Ujung Pipa

Jika Eropa tersengat, Asia tercekik.

Sekitar 84 persen minyak mentah dan 83 persen LNG yang melewati Selat Hormuz sebelum perang mengalir ke Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyerap 75 persen ekspor minyak dan 59 persen LNG kawasan Teluk.

Bangladesh kini menghadapi proyeksi resesi. Pakistan harus meminta Arab Saudi mengalihkan rute pengiriman minyak melewati pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Filipina memberlakukan pekan kerja empat hari untuk menghemat energi.

Pos terkait