Dua Blokade, Satu Selat, dan Dunia yang Disandera

Ilustrasi dua blokade di satu selat: kapal sipil terjebak di tengah konflik AS–Iran, sementara pasokan energi dunia ikut tersandera dalam kebuntuan yang belum menemukan jalan keluar. AI GENERATE

Indonesia, sebagai negara dengan ketergantungan impor minyak yang terus tumbuh, tidak berdiri di luar pusaran ini. Harga energi global yang bergolak langsung menekan neraca impor, mendorong tekanan pada subsidi bahan bakar, dan — lewat jalur pupuk urea yang lebih dari 30 persen dipasok dari negara-negara Teluk melalui Hormuz — berpotensi memukul sektor pertanian.

Selat Hormuz bukan urusan Timur Tengah. Ia adalah urat nadi logistik yang jika tersumbat, merembet ke harga beras, ongkos angkut, dan tagihan listrik di seluruh Asia.

Meja Perundingan yang Retak

Bacaan Lainnya

Pembicaraan damai di Islamabad pada 11–12 April adalah pertemuan tatap muka pertama AS-Iran pada level tertinggi sejak revolusi 1979. Delegasi AS dipimpin Wapres JD Vance bersama utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Hasilnya: tidak ada kemajuan konkret.

Tuntutan “garis merah” AS mencakup penghentian total pengayaan uranium, pembongkaran seluruh fasilitas nuklir utama, pemindahan stok uranium Iran ke luar negeri, penghentian dukungan ke kelompok-kelompok bersenjata sekutu di kawasan, dan pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa tol. Iran menolak semuanya.

Arms Control Association menilai AS datang ke meja perundingan dengan negosiator yang tidak siap secara teknis. Witkoff disebut salah memahami posisi nuklir Iran dan tidak mampu menangkap fleksibilitas yang sebenarnya ada dalam proposal Teheran.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman menyimpulkan dengan lugas kepada NPR: “Pemerintahan Trump datang dengan tuntutan maksimalis dan pada dasarnya hanya ingin Iran menyerah. Tidak ada negara mana pun yang akan menyerah.”

Sementara itu, Ghalibaf dalam unggahan terbaru justru mengancam akan “memperlihatkan kartu baru di medan perang” jika negosiasi terus berjalan di atas syarat-syarat yang ia sebut sebagai “meja penyerahan diri.”

Ranjau yang Tidak Bisa Dicabut Sendiri

Ada detail yang jarang disorot, tapi bisa jadi paling menentukan nasib krisis ini.

Menurut penilaian intelijen Pentagon yang disampaikan ke DPR AS, dibutuhkan hingga enam bulan untuk membersihkan Selat Hormuz dari ranjau laut — bahkan setelah perang selesai sekalipun. Satu laporan bahkan menyebut Iran sendiri kehilangan jejak ranjau yang sudah ditanam, sehingga tidak mampu membuka selat sepenuhnya meski mau.

Ini bukan sekadar soal kehendak politik. Ini soal fakta fisik di dasar laut.

Dunia bukan hanya menunggu Iran dan AS bersepakat. Dunia menunggu mesin penyapu ranjau bergerak — dan itu, menurut kalkulasi militer AS sendiri, butuh berbulan-bulan.

Pertanyaan yang Harus Diajukan

Di balik narasi “perang melawan proliferasi nuklir” dan “hak berdaulat atas teknologi damai,” ada pertanyaan yang lebih keras dan lebih penting.

Siapa yang sesungguhnya diuntungkan dari kebuntuan ini?

Produsen minyak di luar Teluk — terutama AS sendiri sebagai eksportir LNG terbesar dunia — menikmati harga tinggi sementara pasar Teluk terkunci. Kontraktor pertahanan menuai kontrak baru di tengah eskalasi. Dan Trump, yang sedang menghadapi angka persetujuan 33 persen dalam jajak pendapat AP/NORC, mendapat satu hal yang selalu berguna secara politik: musuh eksternal yang tegas.

Di pihak lain, rezim Iran — yang sebelum perang ini sudah menghadapi protes terbesar sejak 1979 dan konflik dengan warga sipil oleh aparat keamanan — justru mendapat konsolidasi nasionalisme yang tak ternilai. Perang membungkam oposisi internal lebih efektif dari hukum mana pun.

Juru runding keduanya mungkin sedang berbicara tentang uranium dan tol laut. Tapi yang sesungguhnya sedang dinegosiasikan adalah sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam: siapa yang berhak mendefinisikan tatanan Timur Tengah pasca-Khamenei, dan dengan harga berapa.

Dunia Tidak Ikut Berperang, tapi Ikut Membayar

Kita sudah tahu bahwa perang punya ongkos. Yang belum sepenuhnya disadari adalah: dalam perang abad ke-21 yang menggunakan ekonomi sebagai senjata, ongkos itu tidak hanya dibayar oleh yang berperang.

Bangladesh yang sedang kehabisan bahan bakar tidak ikut perang. Petani Indonesia yang menghadapi lonjakan harga pupuk tidak ikut perang. Maskapai Asia yang harus memutar rute ribuan kilometer tidak ikut perang.

Tapi mereka semua ikut membayar.

Selat Hormuz hari ini adalah cermin dari cara dunia modern bisa dijejalkan ke dalam krisis oleh keputusan dua negara yang merasa punya cukup kekuatan untuk bermain dengan api — sambil yakin bahwa yang terbakar duluan adalah orang lain.

Keyakinan itu, sampai hari ini, masih belum terbukti salah. Dan itulah yang paling berbahaya.***

Pos terkait