Dua Blokade, Satu Selat, dan Dunia yang Disandera

Ilustrasi dua blokade di satu selat: kapal sipil terjebak di tengah konflik AS–Iran, sementara pasokan energi dunia ikut tersandera dalam kebuntuan yang belum menemukan jalan keluar. AI GENERATE

Pada 17 April, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan Selat Hormuz “terbuka penuh.” Harga minyak terjun 11 persen dalam hitungan jam. Euforia itu berumur kurang dari 24 jam.

Keesokan harinya, IRGC menutup kembali selat — mengutip “pelanggaran kepercayaan berulang” karena blokade AL AS tidak dicabut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf berkata tegas: “Mustahil bagi orang lain melewati Selat Hormuz sementara kami tidak bisa.”

Hari ini, 24 April, Iran kembali menyita dua kapal kontainer di selat, hanya beberapa jam setelah Trump memperpanjang gencatan senjata. Perundingan ronde kedua di Islamabad pun masih menggantung.

Bacaan Lainnya

Senjata Ekonomi yang Berbalik

Di sinilah ironi terbesar konflik ini.

AS dan Iran sama-sama menggunakan ekonomi sebagai senjata. Tapi senjata itu bukan hanya melukai lawan — ia melukai seluruh pihak yang tidak ikut bertarung.

Kepala IEA menyebut situasi ini sebagai “tantangan keamanan energi global terbesar dalam sejarah” — lebih parah dari gabungan krisis energi 1973, 1979, dan 2022. Bukan retorika kosong.

Sebelum perang, sekitar 25 persen perdagangan minyak laut dunia dan 20 persen LNG global melewati selat ini setiap hari. Begitu selat menutup, efeknya bukan bertahap — ia langsung.

Harga minyak Brent menembus USD120 per barel pasca-penutupan, dan QatarEnergy terpaksa mengumumkan force majeure atas seluruh ekspornya. Produksi minyak Kuwait, Irak, Arab Saudi, dan UEA anjlok minimal 10 juta barel per hari pada pertengahan Maret — bukan karena sumur-sumur itu rusak, melainkan karena tidak ada kapal yang bisa mengangkut.

Federal Reserve Bank of Dallas memproyeksikan rata-rata harga WTI mencapai USD98 per barel dan pertumbuhan PDB global terpangkas 2,9 poin persentase secara tahunan jika penutupan selat hanya berlangsung satu kuartal. Jika berlanjut dua kuartal, harga puncak bisa menyentuh USD132. Skenario terburuk yang sudah mulai dipertimbangkan pejabat AS dan analis Wall Street: USD200 per barel.

IEA menyebut ini “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.”

Psywar di Atas Medan Perang

Pertempuran tidak hanya terjadi di laut. Keduanya sedang berperang di arena persepsi — dan keduanya tahu betul bahwa narasi adalah amunisi.

Pos terkait