Lima provinsi, satu pola: 99 persen joki UTBK 2026 mengincar kursi Kedokteran. Pertanyaannya bukan soal kecurangan saja—tapi apa yang terjadi bila mereka masuk, lulus, dan memegang stetoskop.
Bayangkan sebuah skenario yang tidak pernah diumumkan dalam konferensi pers mana pun. Seseorang berhasil lolos seleksi nasional bukan karena ia memahami biologi sel, bukan karena ia sanggup menghafal anatomi, melainkan karena ada telinga kiri yang mendengarkan bisikan jawaban dari balik tembok ruang ujian.
Ia kemudian duduk di bangku Fakultas Kedokteran, menyelesaikan pendidikan dengan cara-cara lain yang bisa dibeli, dan suatu hari berdiri di depan pasien dengan gelar dokter di dadanya.
Skenario itu bukan fiksi. Itu adalah pertanyaan yang semestinya diajukan setelah SNPMB mengungkap jaringan perjokian UTBK 2026 yang terorganisir di berbagai titik—dari Sulawesi hingga Jawa Timur.
Panitia memang bertepuk tangan. Sistem deteksi bekerja. Para pelaku tertangkap. Tapi, pertanyaan yang jauh lebih penting justru belum disentuh: bagaimana dengan yang tidak tertangkap?
Modus yang Berevolusi, Ancaman yang Bertumbuh
Apa yang terungkap tahun ini bukan sekadar titip absen atau contekan bersama. Ini adalah operasi yang berevolusi. Di Universitas Diponegoro Semarang, seorang peserta kedapatan menanamkan alat bantu dengar di dalam telinganya—begitu dalam hingga panitia harus membawanya ke dokter THT untuk bisa melepasnya. Sebuah perangkat yang di telinga siapa pun tampak wajar, tapi sesungguhnya adalah antena transmisi jawaban dari luar ruangan.
Di Universitas Negeri Malang dan Universitas Negeri Surabaya, pelaku melakukan pemalsuan identitas dan modifikasi foto pendaftaran agar lolos face recognition. Seorang joki di Unesa bahkan sudah beroperasi sejak UTBK 2025—artinya ia bukan pemula, melainkan veteran dua musim.
Di UPN Veteran Jawa Timur, foto dimanipulasi menggunakan AI hingga hampir sempurna. Hampir—karena verifikasi manual masih dilakukan. Kata kunci yang perlu diperhatikan: hampir.
“Kasus kecurangan yang kami temukan, sekitar 99 persen mengarahkan ke pilihan Kedokteran.” — Pelaksana Tugas Wakil Rektor I Unsulbar, Tasrif Surungan
Angka 99 persen itu bukan statistik biasa. Ia adalah diagnosis. Ia menunjukkan bahwa perjokian bukan sekadar perilaku oportunistik—melainkan industri yang memiliki segmen pasar spesifik: keluarga yang mampu membayar mahal, dengan ambisi yang sangat terarah.
Kenapa Selalu Kedokteran?
Jawabannya bukan misteri. Fakultas Kedokteran secara konsisten menjadi program studi dengan rasio peminat-kursi paling ketat di Indonesia—dari 871.496 peserta UTBK 2026 yang memperebutkan 260.000 kursi PTN, Kedokteran menjadi tujuan yang paling diperjuangkan dengan cara apa pun.





